Tragedi Berdarah di Kelapa Gading: Remaja Tega Aniaya Kakak Kandung Hingga Tewas Menggunakan Palu

JAKARTA UTARA — Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, digemparkan oleh aksi kekerasan dalam keluarga yang berujung maut. Seorang remaja berinisial MAH diamankan pihak kepolisian setelah diduga kuat menganiaya kakak kandungnya sendiri, MAR (22), hingga meninggal dunia pada Selasa (24/2/2026).

Pelaku diduga melakukan aksi keji tersebut dengan cara memukul bagian kepala korban menggunakan sebuah palu. Kasus ini kini tengah ditangani secara intensif oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Utara.

Polisi Dalami Motif di Balik Aksi Keji

Kasat PPA Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Ni Luh Sri Arsini, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyidikan mendalam. Fokus utama polisi saat ini adalah mengungkap motif yang memicu MAH hingga tega menghabisi nyawa saudara kandungnya sendiri.

“Kami masih melakukan penyidikan juga mendalami motif sebenarnya dari pelaku sampai bisa melakukan aksi keji terhadap kakak kandungnya tersebut,” ujar Kompol Ni Luh, Rabu (25/2/2026).

Latar Belakang Keluarga: Hidup Tanpa Orang Tua di Rumah

Berdasarkan informasi awal, saat kejadian berlangsung, kedua bersaudara tersebut sedang berada di rumah tanpa pengawasan orang tua. Diketahui bahwa sang ibu sedang bekerja di luar rumah, sementara sang ayah tinggal di lokasi terpisah dari mereka.

“Ibunya usaha jualan di luar dan bapaknya tinggal terpisah dengan mereka,” tambah Kompol Ni Luh menjelaskan situasi domestik pelaku dan korban.

Tunggu Hasil Autopsi Jenazah

Untuk memperkuat bukti hukum dan memastikan penyebab pasti kematian, jenazah MAR saat ini tengah menjalani proses autopsi di rumah sakit. Polisi belum bisa memberikan keterangan lebih rinci mengenai luka-luka korban sebelum hasil medis resmi keluar.

“Korban masih diautopsi, belum keluar hasilnya,” pungkasnya.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada penyidik. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua untuk terus memantau dinamika hubungan antar anak di dalam lingkungan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *