Drama televisi asal Malaysia berjudul “Bidaah” tengah menjadi sorotan tajam, khususnya dari kalangan ulama dan aktivis Islam tradisionalis. Drama tersebut dinilai tidak hanya menyajikan narasi yang keliru mengenai konsep bid’ah, tetapi juga dianggap menyudutkan ulama tarekat dan simbol-simbol suci dalam tradisi Islam.
Tgk. Umar Rafsanjani, tokoh agama dan pembina Laskar Aswaja Aceh, menyebut drama itu sebagai bentuk pembunuhan karakter terhadap para ulama pewaris Nabi. Ia menyoroti bahwa alur cerita “Bidaah” lebih menonjolkan isu-isu seperti nikah paksa, penyimpangan seksual, kekerasan, dan manipulasi agama, yang digambarkan dilakukan oleh tokoh bersorban dan berjubah ala kaum sufi.
“Ini bukan sekadar salah secara isi, tapi sudah mengarah pada pelecehan simbol agama. Simbol-simbol seperti jubah, sorban, dan laqab ‘Walid’ dijadikan bahan olok-olok, seolah-olah semua pengamal tasawuf adalah pelaku kebid’ahan,” ujar Tgk. Umar dalam keterangannya, Kamis (10/4/2025).
Ia menilai bahwa produksi seperti ini justru memberi angin segar bagi kelompok Wahabi, khususnya di Indonesia, yang selama ini dikenal kerap mengeneralisasi dan memvonis sesat kepada kelompok di luar pemahamannya.
“Kelompok Wahabi paling diuntungkan. Mereka akan gunakan drama ini sebagai penguat narasi bahwa tarekat dan tasawuf adalah bid’ah dan sesat. Padahal, pemahaman bid’ah mereka itu sendiri jauh menyimpang dari manhaj ulama salaf yang muktabar,” tegasnya.
Tgk. Umar tidak menampik bahwa ada oknum yang menyalahgunakan agama. Namun menurutnya, kesalahan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh golongan.
“Kalau ada satu orang bersorban yang menyimpang, ya salahkan dia, bukan jubah dan sorban yang dia kenakan. Ulama tidak boleh dijadikan tokoh antagonis tanpa penyeimbang,” katanya.
Ia mengusulkan agar media dan industri kreatif lebih adil dan berimbang. Jika ada karakter “Walid” yang digambarkan sebagai pelaku penyimpangan, maka harus ada pula tokoh “Walid” lain yang merepresentasikan ulama sejati—alim, zuhud, dan menjaga syariat.
“Jangan sampai karena satu drama, kata ‘Walid’ yang selama ini mulia justru menimbulkan ketakutan atau citra negatif di masyarakat,” imbuhnya.
Tgk. Umar pun mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi tontonan berbalut agama dan tidak menjadikan konten fiksi sebagai rujukan dalam memahami ajaran Islam.
“Umat Islam harus kembali menjadikan ulama sebagai rujukan utama, bukan tokoh fiksi atau artis yang belum tentu bisa menjadi teladan,” pungkasnya.













