BANYUWANGI — Keterbatasan fasilitas fisik, sempitnya lahan sekolah, hingga minimnya alat peraga olahraga yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi para guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) akhirnya berhasil dipecahkan. Menjawab tantangan klasik tersebut, Program Studi S2 Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) hadir membawa gebrakan teknologi futuristik ke ujung timur Pulau Jawa.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim pascasarjana Unesa menggelar forum pengenalan mutakhir bertajuk “Real Games Integrasi Virtual Reality dalam Optimalisasi Literasi Gerak Dasar” di Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA), Kamis (21/05/2026).
Hadirkan Solusi Cerdas VR Sebagai Jembatan Literasi Gerak Anak
Langkah progresif ini diambil sebagai respons nyata atas keprihatinan di lapangan, di mana banyak sekolah di daerah tidak memiliki lapangan terbuka yang layak untuk mempraktikkan variasi gerak dasar. Akibatnya, pemenuhan literasi gerak (physical literacy) anak-anak sering kali gembos dan tidak optimal.
Di sinilah teknologi Virtual Reality (VR) diperkenalkan sebagai juru selamat. VR hadir sebagai ruang digital imersif yang mampu menghadirkan simulasi gerak tanpa sekat batas ruang dan waktu.
Ketua Tim PkM S2 Pendidikan Olahraga Unesa, Dr. Heryanto Nur Muhammad, M.Pd., menyampaikan bahwa pengenalan teknologi berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) ini ditujukan untuk merombak total cara pandang guru dalam mengajar di era digital.
“Keterbatasan fasilitas fisik di sekolah jangan sampai menjegal kreativitas guru dan hak siswa untuk bergerak aktif. Lewat konsep Real Games berbasis VR ini, kita bisa memindahkan lapangan visual hingga ruang simulasi gerak yang interaktif ke dalam ruang kelas sekecil apa pun. Kami ingin membuktikan bahwa teknologi canggih bisa menjadi solusi praktis saat fasilitas nyata di sekolah sangat terbatas,” tegas Dr. Heryanto.
Siswa Tetap Keringatan, Lompat dan Menghindar di Dunia 3D
Dalam agenda tersebut, puluhan guru SMP yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PJOK Kabupaten Banyuwangi diajak menjajal langsung kecanggihan ekosistem VR. Melalui demonstrasi perangkat, para guru diperlihatkan modul Real Games yang dirancang khusus untuk menstimulasi motorik kasar siswa.
Meskipun berbasis visual 3D di dalam ruangan, siswa tidak hanya duduk diam, melainkan tetap dituntut melakukan gerakan fisik nyata seperti melompat, menghindar, hingga melempar secara presisi sesuai skenario simulasi. Teknologi ini membuktikan bahwa ketiadaan lapangan semen atau alat peraga konvensional kini bisa disiasati dengan cerdas melalui media digital interaktif.
Pihak UNIBA selaku tuan rumah menyambut hangat sinergi ini. Kolaborasi antar-perguruan tinggi seperti Unesa dan UNIBA dinilai menjadi motor penggerak utama dalam membawa inovasi global untuk menyelesaikan kendala-kendala lokal yang dihadapi para pendidik di Banyuwangi.
Solusi Jitu Guru Saat Cuaca Buruk Melanda
Ketua MGMP PJOK Banyuwangi mengakui bahwa pengenalan teknologi VR ini memberikan angin segar dan perspektif baru yang sangat mereka butuhkan. Selama ini, para guru kerap pusing tujuh keliling dan memutar otak ketika cuaca buruk atau saat area sekolah tergenang air sehingga materi gerak tidak bisa disampaikan.
“Pengenalan ini seperti jawaban instan atas kendala fasilitas yang kami hadapi sehari-hari di sekolah. Kami baru menyadari potensi luar biasa penggunaan VR untuk mengoptimalkan literasi gerak dasar anak tanpa perlu lahan yang luas. Ini menjadi modal ilmu yang sangat berharga bagi kami untuk mulai merancang sistem pembelajaran olahraga yang lebih adaptif, modern, dan kebal cuaca di Banyuwangi,” ungkapnya penuh antusias.













