JAKARTA — Jagat media sosial di tanah air tengah diguncang oleh skandal “mic bocor” yang menyeret nama Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam Rapat Paripurna kenegaraan. Menanggapi polemik panas tersebut, Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Zawawi A Raharusun, S.H., angkat bicara dan melayangkan draf kritik menohok yang ditujukan langsung kepada seluruh elite politik di Senayan.
Pernyataan keras ini dikeluarkan menyusul viralnya potongan video pasca-pidato Presiden Prabowo Subianto terkait RAPBN di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (20/05/2026) lalu.
Sentil Kelalaian Elite Komunikasi di Era Digital
Zawawi menilai bahwa insiden memalukan yang merekam dugaan ucapan spontan berbunyi “asal jangan teriak hidup Jokowi!” saat jeda sidang resmi tersebut harus menjadi refleksi mendalam. Menurutnya, di era digitalisasi yang serbacepat ini, setiap gerak-gerik dan ucapan pejabat publik sangat rentan bocor dan menjadi konsumsi liar masyarakat.
Meski publik memiliki hak penuh untuk menafsirkan sendiri arah pembicaraan di balik layar tersebut, Zawawi mendesak agar elite politik jauh lebih dewasa dan berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang sakral kenegaraan.
“Mic bocor boleh saja viral dan jadi konsumsi publik, tetapi masa depan ekonomi negara dan nasib perut rakyat jangan sampai ikut tenggelam hanya karena polemik politik sesaat,” tegas Zawawi A Raharusun, Jum’at (22/05/2026).
Alihkan Fokus ke Ancaman Krisis Global dan RAPBN
Advokat muda ini mengingatkan dengan keras agar masyarakat Indonesia tidak terbuai dan kehilangan fokus pada substansi utama dari sidang negara yang sedang dibahas. Ia menegaskan bahwa draf pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN jauh lebih krusial untuk dikawal ketat ketimbang meributkan potongan video pendek di media sosial.
Menurut PB HMI, perhatian nasional seharusnya diarahkan secara agresif pada bagaimana strategi pemerintah dalam membendung badai tantangan ekonomi global, meredam fluktuasi nilai tukar mata uang, menjaga stabilitas harga bahan pokok, memperluas keran investasi, hingga menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
“Pidato Presiden itu harus dibaca secara jeli sebagai kompas arah kebijakan nasional. Di tengah kondisi ekonomi dunia yang sedang tidak menentu dan penuh tekanan, rakyat kecil di akar rumput jauh lebih membutuhkan kepastian serta jaminan hidup dibanding sekadar drama politik viral,” lanjutnya.
Demokrasi Sehat Wajib Miliki Kedewasaan Berpikir
Zawawi juga menekankan bahwa kualitas demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa ramai netizen mengomentari isu-isu viral yang bersifat hiburan politik belaka. Masyarakat harus mulai cerdas memilah mana komoditas isu yang sekadar menjadi bumbu politik dan mana yang benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga mereka.
Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang dilahirkan oleh pemerintah-lah yang akan dirasakan langsung efeknya di dapur rumah masyarakat, bukan suara mikrofon yang bocor.
“Sebab pada kenyataannya, rakyat tidak bisa makan dari potongan video viral. Rakyat hidup dari stabilitas ekonomi yang riil, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, ketersediaan lapangan kerja yang luas, serta hadirnya kebijakan negara yang murni berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas,” tutup Zawawi dengan tegas.












