BANDA ACEH — Tepat satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Fadhlullah (Dek Fadh), sektor Pendidikan Dayah menunjukkan penguatan yang semakin nyata. Periode 12 Februari 2025 hingga 12 Februari 2026 menjadi momentum krusial dalam menempatkan dayah sebagai fondasi utama pembangunan karakter dan sumber daya manusia (SDM) di Serambi Mekkah.
Di bawah visi Mualem-Dek Fadh, peran Dinas Pendidikan Dayah Aceh tidak lagi sekadar administratif, melainkan menyentuh substansi peningkatan mutu dan kemandirian lembaga pendidikan Islam tradisional tersebut.
Fokus pada Kemandirian dan Kualitas Santri
Pemerintah Aceh secara intensif memacu berbagai program unggulan, mulai dari pendalaman pemahaman kitab kuning, pengembangan keterampilan vokasional santri, hingga pemberdayaan ekonomi dayah. Langkah ini bertujuan agar lulusan dayah tidak hanya mumpuni di bidang agama, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di sektor ekonomi.
Selain itu, penyediaan sarana dan prasarana tetap menjadi prioritas. Pembangunan fasilitas fisik dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mandiri secara finansial.
Pengakuan Nasional: Anugerah Pesantren Award 2025
Konsistensi kebijakan Mualem-Dek Fadh mendapat apresiasi di tingkat nasional. Gubernur Muzakir Manaf berhasil meraih penghargaan pada ajang Anugerah Pesantren Award 2025 dari Kementerian Agama RI. Ia dinilai sebagai Kepala Daerah Peduli Pesantren yang sangat mendukung tiga fungsi utama pesantren: kebijakan, program, dan sinergi.
“Penghargaan ini adalah refleksi dari dukungan nyata kami melalui peningkatan fasilitas, bantuan pendidikan santri, serta penguatan program kewirausahaan di dayah,” ungkap Mualem dalam berbagai kesempatan.
Sinergi Ulama dan Pemerintah Aceh
Keberhasilan satu tahun pertama ini juga tak lepas dari peran strategis para ulama dayah. Warisan pemikiran tokoh besar seperti Tgk. H. Ibrahim Bardan (Abu Panton) tetap menjadi rujukan moral dalam merumuskan kebijakan pembangunan pendidikan Islam di Aceh.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa kepemimpinan saat ini telah memberikan energi baru bagi ekosistem dayah. “Dayah adalah identitas dan kekuatan moral Aceh. Kami memastikan dayah terus tumbuh, maju, dan mandiri sebagai fondasi strategis SDM Aceh,” ujarnya.
Tantangan Tahun Kedua: Kolaborasi Lintas Sektor
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, S.I.P., M.I.P., menambahkan bahwa meski capaian setahun pertama sangat positif, tantangan ke depan masih besar. Pemerintah Aceh menegaskan akan terus mengedepankan kerja cerdas dan kolaborasi lintas sektor.
“Memasuki tahun kedua, kita akan memperkuat peran dayah dalam pembangunan daerah secara lebih luas, menjaga tradisi sekaligus menatap masa depan yang modern,” tutur M. Nasir.
Capaian setahun kepemimpinan Mualem – Dek Fadh menjadi penanda kuat bahwa pendidikan dayah tetap berada di jantung kebijakan pembangunan Aceh demi menjaga martabat dan martabat daerah.












