JAKARTA — Kabar mengejutkan datang dari dunia industri kreatif tanah air. Kris Antoni, pendiri sekaligus CEO Toge Productions, mengungkapkan kekecewaan mendalamnya terhadap perlakuan oknum pajak yang dinilai memberikan tagihan “kurang bayar” dengan aturan yang tidak masuk akal.
Masalah ini menjadi pukulan telak bagi Kris yang telah 17 tahun konsisten mengharumkan nama Indonesia di pasar gim internasional melalui karya-karya fenomenal seperti Coffee Talk.
Persoalan Amortisasi Gaji yang Dianggap “Dibuat-buat”
Kekecewaan Kris dipicu oleh kebijakan sepihak oknum pajak yang mewajibkan biaya gaji karyawan selama masa pengembangan gim untuk diamortisasi (dialokasikan sebagai biaya jangka panjang). Padahal, Toge Productions merasa tidak pernah mengajukan atau memenuhi syarat untuk melakukan kapitalisasi biaya pengembangan tersebut.
Menurut Kris, pengenaan aturan ini terkesan dipaksakan dan tidak sesuai dengan kondisi riil operasional studio gim, di mana biaya gaji seharusnya menjadi beban operasional tahun berjalan.
Peringatan Bagi Studio Gim Lain
Melalui pernyataan di media sosialnya, Kris memberikan peringatan keras kepada pemilik studio gim lain di Indonesia agar tidak sembarangan menerima tuntutan pajak yang dasar hukumnya meragukan.
“Waspada dan jangan langsung terima jika tuntutan pajak tidak sesuai dengan kondisi riil perusahaan,” tegas Kris. Ia menilai tekanan sistem birokrasi ini menjadi titik balik yang membuatnya merasa lelah berjuang di negeri sendiri.
Ancaman Relokasi Studio ke Luar Negeri
Toge Productions merupakan salah satu studio gim paling sukses asal Indonesia yang telah meraih banyak penghargaan di level global. Namun, perlakuan sistem pajak yang dianggap “menjegal” ini membuat Kris mempertimbangkan opsi pahit untuk memindahkan operasional studionya ke luar negeri.
“Harapan saya pupus,” ungkapnya. Situasi ini pun menjadi sorotan tajam netizen dan pelaku industri kreatif, mengingat pemerintah tengah gencar mengampanyekan dukungan terhadap ekonomi digital, namun di lapangan justru terjadi hambatan yang bisa memicu brain drain atau pelarian talenta ke luar negeri.
Hingga saat ini, publik masih menunggu respons dari instansi terkait mengenai keluhan yang disampaikan oleh salah satu pionir industri gim nasional tersebut.












