SIDOARJO — Dedikasi para guru di Kecamatan Gedangan terbukti melampaui batas ruang kelas. Pada Kamis sore (12/3/2026), para pendidik yang tergabung dalam PGRI Cabang Gedangan menggelar aksi kemanusiaan di SDN Sruni 2 dengan menyalurkan santunan bagi anak yatim dan kaum duafa di lingkungan pendidikan setempat.
Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan pendidikan karakter telah mendarah daging dalam jiwa para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tersebut.
Kekuatan Gotong Royong: Dari Anggota untuk Umat
Dana santunan sebesar Rp19.000.000 berhasil dihimpun secara kolektif melalui iuran sukarela anggota di seluruh ranting PGRI se-Kecamatan Gedangan. Dana tersebut kemudian disalurkan langsung secara khidmat kepada mereka yang membutuhkan guna meringankan beban di bulan suci Ramadan.
Ketua PGRI Kecamatan Gedangan, Syamsul Huda, S.Pd., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus dan anggota yang telah menyisihkan sebagian rezekinya.
“Acara ini adalah buah dari ketulusan rekan-rekan sejawat. Berkat partisipasi aktif dari 15 ketua ranting dan seluruh anggota, amanah ini dapat tersalurkan dengan lancar tanpa hambatan berarti,” ujar Huda dengan nada bangga.
Meleburkan Sekat Kedinasan dalam Silaturahmi
Kegiatan tidak hanya berhenti pada penyerahan bantuan. Usai sesi santunan, suasana kebersamaan semakin kental dengan digelarnya acara buka puasa bersama. Momen ini dimanfaatkan para pendidik untuk saling bertukar pikiran dan mempererat tali silaturahmi di luar urusan kedinasan.
Huda berharap aksi sosial ini menjadi fondasi kuat yang terus terjaga dan menjadi tradisi tahunan organisasi. “Bukan hanya soal nominal, tapi soal bagaimana kita memupuk rasa kepedulian sosial. Ini adalah warisan positif yang ingin kami teruskan kepada generasi pendidik selanjutnya,” tambahnya.
Teladan Karakter bagi Siswa
Melalui gerakan “Ubah Iuran Jadi Senyuman” ini, PGRI Gedangan memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat luas. Mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai karakter yang diajarkan kepada siswa di sekolah—seperti empati dan kedermawanan—telah dipraktikkan secara nyata oleh para gurunya.
Aksi ini menegaskan posisi PGRI bukan sekadar organisasi profesi, melainkan entitas sosial yang memiliki dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.













