HALMAHERA SELATAN — Pernyataan kontroversial pengamat ekonomi Bennix di media sosial TikTok memicu gelombang kemarahan besar dari masyarakat di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Ucapan Bennix yang menyebut Pulau Obi sebagai “pulau kosong” tanpa penduduk asli dinilai telah mengencingi sejarah, adat, dan harga diri masyarakat adat setempat.
Merespons penghinaan tersebut, tokoh masyarakat Desa Kawasi, Jemi, secara lantang mengancam akan melakukan konsolidasi massa secara besar-besaran untuk mengepung dan menggelar aksi demonstrasi di kawasan industri tambang nikel milik Harita Group serta sejumlah perusahaan tambang raksasa lainnya di Pulau Obi.
Aksi pemblokiran total ini dipastikan akan tumpah ke jalan apabila Bennix tidak punya iktikad baik untuk datang langsung ke Pulau Obi guna meminta maaf secara adat kepada masyarakat setempat.
“Jika Bennix tidak datang meminta maaf secara adat kepada masyarakat Obi, kami akan melakukan demo besar-besaran di kawasan perusahaan tambang nikel yang ada di Obi,” tegas Jemi dengan mengenakan baju adat Tobelo Galela, Minggu (24/05/2026).
Blunder Fatal di TikTok: Senggol Bahasa Bugis dan Melayu Ambon
Polemik panas ini bermula dari potongan video Bennix yang mendadak viral di platform TikTok. Dalam unggahan tersebut, Bennix secara sepihak mempertanyakan identitas asli masyarakat Pulau Obi hanya karena mendengar warga menggunakan bahasa Bugis dan Melayu Ambon dalam percakapan sehari-hari.
“Gua tanya sama warga lokal, ‘lu asli Pulau Obi?’ Dia malah berbahasa Bugis, bro,” ujar Bennix dalam potongan video viral tersebut.
Tak berhenti di situ, Bennix kemudian menarik kesimpulan sepihak yang sangat fatal bahwa seluruh masyarakat yang menetap di Pulau Obi hanyalah kaum pendatang dari Sulawesi dan Ambon.
“Tidak ada warga lokal di Pulau Obi. Itu pulau kosong,” cetusnya yang langsung memantik api amarah netizen dan warga lokal Maluku Utara.
Jemi: Penggunaan Bahasa Bukan Ukuran Menghapus Identitas Lokal
Jemi menegaskan dengan sangat keras bahwa Pulau Obi bukanlah wilayah tak bertuan atau tanah kosong sebagaimana yang digambarkan secara keliru oleh Bennix. Menurutnya, masyarakat adat Obi telah hidup secara turun-temurun mengelola tanah leluhur mereka, jauh sebelum investasi tambang nikel masuk ke Halmahera Selatan.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan bahasa Bugis atau Melayu Ambon oleh sebagian warga sama sekali tidak bisa dijadikan indikator untuk menghapus identitas jati diri masyarakat lokal Pulau Obi. Sejarah mencatat bahwa Maluku Utara sejak berabad-abad lalu telah menjadi wilayah titik temu berbagai etnis akibat jalur perdagangan rempah dan migrasi antarpulau.
“Obi bukan tanah kosong. Ada leluhur, adat, budaya, dan masyarakat asli yang hidup di sini sejak lama. Kalau orang Obi bicara Bugis atau Melayu Ambon, bukan berarti mereka bukan orang Obi,” kata Jemi secara mendalam.
Sentimen Identitas Menguat di Tengah Gurita Industri Nikel
Saat ini, perwakilan masyarakat dari sejumlah desa di Pulau Obi sudah mulai membangun jaringan komunikasi intensif untuk menentukan tanggal main aksi demonstrasi massal. Konflik ini memperlihatkan bagaimana tensi sensitivitas masyarakat terhadap isu identitas lokal kian meningkat tajam di tengah ekspansi masif industri tambang nikel di Pulau Obi.
Masyarakat menegaskan bahwa masuknya investasi asing berskala besar yang menciptakan pertumbuhan ekonomi baru di Halmahera Selatan tidak boleh menggilas, mereduksi, apalagi menghapus eksistensi sejarah masyarakat adat.
Hingga berita ini diturunkan, Bennix terpantau belum memberikan klarifikasi resmi atau pernyataan maaf terbuka terkait polemik video viral yang telanjur menyulut sumbu amarah warga Obi tersebut.












