MEULABOH — Rencana pengadaan mobil dinas Bupati Aceh Singkil senilai Rp2,6 miliar menuai kecaman hebat dari kalangan mahasiswa. Presiden Mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh (TDM), Alfa Salam, menilai kebijakan tersebut sebagai bukti nyata kegagalan empati pemerintah daerah di tengah penderitaan rakyat yang baru saja dihantam bencana banjir.
Anggaran fantastis yang bersumber dari APBK 2026 tersebut dinilai lebih berorientasi pada kemewahan pejabat ketimbang pemulihan ekonomi masyarakat yang sedang lumpuh.
Ironi Kemewahan di Tengah Puing Pascabanjir
Alfa Salam menegaskan bahwa di saat warga Aceh Singkil masih berjibaku memperbaiki rumah dan mencari nafkah yang hilang akibat banjir, pemerintah justru mempertontonkan prioritas yang tidak bermoral.
“Uang rakyat seharusnya digunakan untuk memulihkan kehidupan masyarakat, bukan untuk mempertebal kenyamanan pejabat. Rp2,6 miliar itu bisa menyelamatkan ratusan keluarga korban banjir dan memperbaiki infrastruktur darurat,” tegas Alfa, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, rencana ini memperlihatkan wajah pemerintah daerah yang terputus dari realitas penderitaan rakyat. Kebijakan ini dianggap melukai rasa keadilan publik secara mendalam.
Soroti Jejak Anggaran: Dari iPhone 16 Pro hingga Mobil Mewah
Kritik ini bukan tanpa alasan. Alfa Salam juga mengungkit rangkaian kebijakan “berhias” Pemkab Aceh Singkil yang kontroversial. Sebelumnya, pada tahun 2025, muncul isu pengadaan iPhone 16 Pro dan iPad dengan pagu anggaran mencapai Rp90 juta.
“Kini muncul lagi rencana mobil dinas Rp2,6 miliar. Ini menunjukkan orientasi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Pejabat memanjakan diri dengan fasilitas mewah saat rakyat diminta bersabar di tengah keterpurukan,” lanjutnya.
Seruan Lawan Ketidakadilan: “Turun Jika Tidak Berpihak”
Alfa Salam mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh Singkil untuk berani mengoreksi kebijakan pemimpin yang dinilai minim empati. Menurutnya, diamnya masyarakat berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.
“Jika tidak bisa berpihak kepada masyarakat yang sedang kesulitan, maka sebaiknya turun dari jabatan. Aceh Singkil butuh pemimpin yang hadir saat rakyat susah, bukan yang menikmati kenyamanan di atas penderitaan orang lain,” pungkas Alfa dengan nada tegas.
Pihak mahasiswa menuntut agar rencana pengadaan mobil dinas tersebut dibatalkan dan dialihkan untuk program bantuan langsung yang menyentuh korban bencana banjir di Aceh Singkil.












