GRESIK — Tangis haru pecah di Kabupaten Gresik saat tiga anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) akhirnya menginjakkan kaki di tanah kelahiran orang tua mereka, Senin (9/2/2026). Setelah bertahun-tahun tumbuh di luar negeri, kepulangan mereka menjadi istimewa karena didampingi langsung oleh Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, sejak dari Malaysia hingga tiba dengan aman di pelukan keluarga.
Langkah ini merupakan perwujudan nyata kehadiran negara dalam melindungi keluarga pekerja migran, memastikan anak-anak tersebut mendapatkan hak hidup dan masa depan yang lebih baik di tanah air.
Pertemuan Perdana dengan Kampung Halaman
Bagi ketiga anak tersebut, perjalanan ini adalah pertemuan pertama dengan tanah kelahiran yang selama ini hanya mereka dengar melalui cerita. Ketiganya adalah MI (12) dan SY (8) asal Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, serta HA (11) asal Desa Siwalan, Kecamatan Panceng.
Bupati yang akrab disapa Gus Yani ini menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh menanggung dampak negatif dari proses migrasi orang tua mereka.
“Anak-anak tidak boleh menjadi korban jarak dan migrasi. Mereka harus pulang dengan aman, terlindungi, dan memiliki masa depan yang jelas di negaranya sendiri,” tegas Gus Yani saat prosesi penyerahan anak kepada keluarga.
Pendampingan Psikososial dan Hak Pendidikan
Mengingat anak-anak tersebut lahir dan besar di lingkungan asing, Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas KBPPPA telah menyiapkan langkah mitigasi pascakepulangan. Fokus utama saat ini adalah pendampingan psikososial dan konseling untuk membantu proses adaptasi.
Selain itu, Pemkab Gresik bergerak cepat melalui lintas OPD untuk memastikan:
-
Penerbitan Dokumen Kependudukan: Dispendukcapil segera memproses identitas agar mereka sah sebagai warga negara.
-
Akses Pendidikan formal: Memfasilitasi perpindahan dari pendidikan nonformal di luar negeri ke sekolah formal di Gresik.
-
Layanan Kesehatan: Memastikan jaminan kesehatan terpenuhi bagi pertumbuhan mereka.
Siti Khotimah (50), orang tua dari HA, menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Alhamdulillah, saya tidak menyangka kepulangan anak saya akan dikawal langsung oleh Pak Bupati. Terima kasih atas bantuan pemerintah,” tuturnya haru.
Implementasi Program Nawakarsa: BUMI Gresik
Gus Yani menjelaskan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Pemkab Gresik dengan KBRI Kuala Lumpur. Langkah ini juga menjadi bagian dari Program Prioritas Nawakarsa melalui skema BUMI Gresik (Peduli Buruh Migran Gresik).
Gresik sendiri memiliki tujuh kantong besar PMI, yakni Kecamatan Panceng, Ujungpangkah, Sidayu, Dukun, Sangkapura, Tambak (Bawean), dan Manyar. Program ini mengorkestrasi berbagai dinas mulai dari Disnaker, Dinas Pendidikan, hingga Dinas Sosial untuk memberikan perlindungan komprehensif.
“Ini baru awal. Masih banyak anak PMI lain yang menunggu kepulangan. Kami akan terus berkomunikasi dengan KBRI agar kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh warga kami, baik saat bekerja di luar negeri maupun bagi keluarga yang ditinggalkan,” pungkas Bupati Yani.














