KAPUAS HULU — Kualitas pengerjaan proyek gedung sekolah di Kabupaten Kapuas Hulu kembali menuai polemik. Plafon bagian depan Ruang Kelas I Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Ingko Tambe, Kecamatan Putussibau Selatan, dilaporkan ambruk pada Senin (29/12/2025). Peristiwa ini memicu kemarahan warga lantaran gedung tersebut baru selesai dibangun pada tahun 2022 melalui pendanaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, rusaknya fasilitas pendidikan yang relatif baru tersebut menimbulkan tanda tanya besar mengenai mutu material dan pengawasan proyek di lapangan.
Keselamatan Siswa Terancam
Insiden ambruknya plafon ini dinilai sebagai kelalaian serius yang mengancam nyawa siswa dan guru. Beruntung, reruntuhan material plafon tidak jatuh saat jam pelajaran berlangsung. Namun, kondisi ini menciptakan rasa waswas bagi orang tua murid.
“Bangunan ini baru beberapa tahun selesai, tapi plafon kelas satu sudah ambruk. Padahal ini sekolah anak-anak, soal keselamatan seharusnya jadi prioritas utama. Kami minta ada pemeriksaan menyeluruh dan terbuka,” tegas salah satu warga setempat yang menolak identitasnya disebutkan.
Audit Teknis dan Pengawasan Dipertanyakan
Masyarakat menilai pengerjaan gedung SDN 05 Ingko Tambe diduga tidak memenuhi standar teknis dan spesifikasi yang ditentukan. Sebagai proyek yang dibiayai negara, fungsi pengawasan dari tahap perencanaan hingga serah terima pekerjaan (PHO/FHO) kini dipertanyakan keabsahannya.
Warga mendesak agar instansi terkait tidak tinggal diam dan segera memanggil pihak-pihak yang bertanggung jawab, termasuk:
-
Kontraktor Pelaksana: Terkait kualitas pengerjaan fisik.
-
Konsultan Pengawas: Terkait validasi laporan pengerjaan di lapangan.
-
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK): Terkait proses serah terima hasil pekerjaan.
Desakan Investigasi Menyeluruh
Hingga saat ini, pihak sekolah masih menunggu tindak lanjut resmi dari pemerintah daerah maupun perwakilan Kementerian PUPR di Kalimantan Barat. Masyarakat menuntut adanya investigasi transparan untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian atau dugaan tindak pidana korupsi dalam pengurangan spekulasi bangunan.
Selain investigasi, warga mendesak perbaikan segera agar aktivitas belajar mengajar tidak terganggu dan menjamin keamanan siswa saat kembali ke ruang kelas. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan bagian plafon di ruangan lain akan mengalami nasib yang sama.














