MANDAILING NATAL — Dugaan tindakan arogan oknum aparat kembali mencoreng citra kepolisian. Seorang warga sipil berinisial FN (38), warga Desa Sinunukan III, dilaporkan menjadi korban pengeroyokan brutal yang diduga dilakukan oleh dua oknum anggota Brimob dan seorang petugas keamanan (security).
Insiden tragis ini terjadi di lokasi tambang emas rakyat (dompeng), Desa Gonting, Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jumat (6/2/2026) sore.
Pemicu Sepele: Cekcok di SPBU Tiga Minggu Lalu
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi kekerasan ini diduga berakar dari dendam lama. Sekitar tiga minggu sebelum kejadian, FN terlibat cekcok mulut dengan salah satu oknum Brimob berinisial NAS di SPBU Desa Wonosari.
Saat itu, FN ditegur dengan kasar karena mengangkat telepon saat sedang mengantre BBM. Perselisihan tersebut sempat mereda, namun diduga pihak oknum aparat tetap tidak terima hingga melakukan aksi penyerangan di kemudian hari.
Kronologi Pengeroyokan: Korban Dipukul dan Diinjak
Pada hari kejadian, FN yang sedang bekerja di dalam lubang tambang tiba-tiba didatangi oleh tiga orang, yakni NA Siregar (Oknum Brimob PAM Plasma Sipirok B), NAS (Oknum Brimob PAM SPBU Wonosari), dan ANT (Security Plasma Sipirok).
Sambil melontarkan makian, para pelaku memaksa FN keluar dari lubang tambang untuk “menyelesaikan urusan”. Begitu FN naik ke permukaan, para pelaku langsung melakukan aksi beringas.
“Korban dipiting, dicekik, dipukul, hingga ditendang dan diinjak-injak pada bagian perut. Kondisi korban sangat lemas dan tidak berdaya saat pengeroyokan berlangsung,” ujar sumber di lokasi kejadian. Aksi tersebut baru berhenti saat korban berhasil meraih alat kerjanya untuk membela diri, yang memicu para pelaku melarikan diri.
Masyarakat Desak Kapolri Bertindak Tegas
Kejadian ini memicu gelombang keprihatinan dari masyarakat luas. Masyarakat menilai tindakan oknum Brimob tersebut sangat tidak manusiawi, mengingat tugas utama aparat adalah melindungi, bukan menganiaya warga sipil yang tengah mencari nafkah.
Atas dasar keadilan, pihak keluarga dan warga mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo serta Kapolda Sumatera Utara untuk memberikan sanksi tegas, transparan, dan memproses hukum para terduga pelaku secara pidana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Mandailing Natal maupun Satuan Brimob Polda Sumut terkait progres penanganan kasus pengeroyokan tersebut.












