DEKAI — Kondisi memprihatinkan yang menimpa SD YPK Maranatha Ibiroma, Kabupaten Yahukimo, memicu reaksi keras dari para alumni. Pdt. Terianus Hesegem, salah satu alumni senior, menyerukan agar seluruh lulusan sekolah tersebut tidak tinggal diam melihat degradasi pendidikan yang terjadi di tanah kelahiran mereka.
Dalam pernyataannya, Pdt. Terianus menyoroti adanya praktik pembohongan publik serta hancurnya fasilitas penunjang yang membuat proses belajar mengajar menjadi lumpuh.
Kritik Pedas Terhadap Kepemimpinan Sekolah
Pdt. Terianus mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kehadiran Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah di lapangan. Menurutnya, oknum pimpinan tersebut diduga hanya hadir sesekali untuk dokumentasi formalitas tanpa menjalankan kewajiban mengajar yang sebenarnya.
“Kepala Sekolah Plt hadir di lapangan hanya untuk ambil gambar (foto), seakan-akan ada kegiatan belajar mengajar, padahal tidak pernah turun. Foto tidak bisa menjadi ukuran, alam Ibiroma tahu siapa yang membohongi dan siapa yang kerja jujur. Bicara YPK, maka bicara Injil,” tegasnya, Selasa (10/3/2026).
Fasilitas Hancur, Guru PNS Tak Betah
Selain masalah kepemimpinan, kondisi infrastruktur sekolah dinilai sangat mengenaskan. Seluruh rumah dinas guru dilaporkan hancur total, namun pihak pimpinan sekolah diduga tidak pernah mengajukan permohonan perbaikan ke Dinas Pendidikan.
Dampaknya sangat fatal:
-
Guru PNS: Banyak yang tidak berada di tempat tugas karena tidak memiliki hunian layak.
-
Guru Honorer: Hanya guru honorer asli Ibiroma yang bertahan karena mereka tinggal di rumah pribadi.
-
Eksodus Siswa: Murid-murid terpaksa pindah ke SD Inpres Wamerek, SD YPPGI Tangma, bahkan hingga ke Wamena demi mendapatkan pendidikan.
“Kami sebagai alumni sangat sedih. Kenapa ini terjadi? Seakan-akan tidak ada anggaran sekolah. Kami ingin SD ini dipulihkan agar anak-anak kami yang pindah bisa kembali bersekolah di sini,” lanjutnya.
Ajakan Doa dan Puasa untuk Pemulihan Ibiroma
Menutup pernyataannya, Pdt. Terianus menekankan bahwa pemulihan wajah Ibiroma tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan manusia atau kepentingan politik. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu hati kembali kepada Tuhan.
“Jangan selalu berpikir wajah Lewekelek hancur karena kepentingan pribadi atau politik saja. Kita harus kembali kepada Tuhan melalui doa dan puasa. Biar orang tua salah (secara adat), tetapi kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa dunia ini untuk memulihkan Ibiroma,” pungkasnya.
Setelah menuntaskan persoalan pendidikan, para alumni juga berencana menyuarakan kondisi pelayanan kesehatan, khususnya terkait operasional Pustu Ibiroma yang juga dinilai memerlukan perhatian serius.












