Dikelilingi Tambang dan Sawit, Pemuda Mempawah Mengaku Sulit Dapat Kerja: Lulusan SMK Jadi Penonton di Tanah Sendiri

MEMPAWAH – Kehadiran investasi besar di sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Mempawah dinilai belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, khususnya para pencari kerja muda. Di tengah geliat hilirisasi industri, banyak lulusan SMA dan SMK mengaku kesulitan memperoleh pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah mereka sendiri.

Keluhan tersebut datang dari warga di Kecamatan Mempawah Hilir dan Sungai Kunyit yang menilai proses rekrutmen tenaga kerja masih minim transparansi serta belum memberikan ruang yang cukup bagi tenaga kerja lokal.

Informasi Lowongan Dinilai Tertutup

Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh informasi mengenai penerimaan karyawan di perusahaan tambang maupun perkebunan sawit yang beroperasi di wilayah mereka.

Menurut Hendri (24), perwakilan pemuda di Kecamatan Sungai Kunyit, informasi rekrutmen sering kali tidak diketahui masyarakat hingga proses penerimaan selesai.

“Kami baru tahu ada penerimaan karyawan setelah orang luar sudah mulai bekerja. Informasi rekrutmen sangat tertutup,” ujarnya.

Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan di tengah masyarakat yang merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersaing dalam memperoleh pekerjaan.

Lulusan SMK Terkendala Pengalaman Kerja

Selain persoalan informasi, syarat pengalaman kerja dan batas usia juga menjadi hambatan utama bagi para lulusan baru yang ingin memasuki dunia kerja.

Rahmat (45), salah satu tokoh masyarakat setempat, menilai banyak lulusan SMK di Mempawah yang kesulitan memenuhi persyaratan perusahaan karena sebagian besar lowongan mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun.

“Anak-anak kami banyak yang memilih SMK agar cepat bekerja. Namun saat melamar ke perusahaan, syaratnya harus berpengalaman dan ada batasan usia. Bagaimana mereka bisa mendapatkan pengalaman jika kesempatan pertama saja tidak diberikan?” katanya.

Akibat kondisi tersebut, sebagian lulusan SMK dan SMA terpaksa bekerja serabutan atau menjadi buruh harian dengan penghasilan yang terbatas.

Warga Ring Satu Minta Diprioritaskan

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasional perusahaan berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada tenaga kerja lokal.

Mereka menilai keberadaan investasi besar seharusnya mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat sekitar, terutama generasi muda yang telah menyelesaikan pendidikan kejuruan.

Warga juga berharap perusahaan lebih terbuka dalam menyampaikan informasi rekrutmen kepada masyarakat melalui pemerintah desa maupun media lokal.

Disnakertrans Siap Panggil Perusahaan

Menanggapi keluhan tersebut, Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Mempawah menyatakan akan melakukan koordinasi dengan perusahaan tambang dan perkebunan sawit yang beroperasi di daerah tersebut.

Pihak dinas menegaskan pentingnya keterbukaan informasi rekrutmen serta mendorong perusahaan untuk melaporkan kebutuhan tenaga kerja secara berkala.

Selain itu, Disnakertrans juga akan mendorong evaluasi terhadap persyaratan rekrutmen tertentu agar lebih selaras dengan kondisi sumber daya manusia lokal yang tersedia.

Harapan untuk Kesejahteraan Masyarakat Lokal

Masyarakat berharap komitmen pemerintah daerah tidak berhenti pada sebatas wacana, tetapi diwujudkan melalui pengawasan yang nyata terhadap proses perekrutan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan besar.

Warga menilai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Mempawah seharusnya mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, termasuk melalui kesempatan kerja yang lebih adil dan terbuka bagi generasi muda daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *