Ditolak Warga, Kapolres Buru Terapkan Pendekatan Humanis dalam Penertiban Kawasan PETI Gunung Botak

PULAU BURU — Kapolres Pulau Buru, AKBP Sulastri Sukijang, memimpin langsung upaya penertiban, pengosongan, dan penataan kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Gunung Botak dengan menekankan pendekatan humanis, Kamis (4/12/2025). Penertiban ini dilakukan di tengah penolakan tegas dari massa aksi terhadap rencana operasi sepuluh koperasi di kawasan tersebut.

AKBP Sulastri Sukijang didampingi oleh tim gabungan yang terdiri dari OPD terkait Kabupaten dan Provinsi Maluku (termasuk Kadis ESDM Provinsi Abdu Haris), Dandim 1506 Namlea Letkol Infanteri Heribertus Purwanto, Wakapolres Namlea Kompol H. Akmil Djapa S.Ag, serta Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) Jalaluddin Salampessy.

Penolakan Koperasi di Jalur A Desa Wansait

Massa aksi terlihat berkerumunan di jalur A Desa Wansait, menghalangi aparat gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP yang bergerak masuk untuk mengosongkan kawasan Gunung Botak. Penertiban ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang menetapkan periode pengosongan dari tanggal 1 hingga 14 Desember 2025.

Meskipun dihalangi, aparat tetap melanjutkan langkah 3P (Penertiban, Pengosongan, dan Penataan). Kapolres menyatakan bahwa operasi penertiban di kawasan Waelata akan berlangsung selama 14 hari dengan tujuan utama menata kembali kawasan PETI agar dapat dikelola secara legal oleh koperasi dan masyarakat.

Prioritaskan Kemanusiaan dan Dialog

Kapolres menegaskan kepada aparat agar tetap mengedepankan pendekatan humanis untuk mencegah benturan fisik dengan warga penambang.

“Tindakan kepolisian tetap mengedepankan kemanusiaan, agar tidak terjadi gesekan dengan saudara-saudara kita yang mencari nafkah,” tegas AKBP Sulastri Sukijang.

Dalam pertemuan tatap muka, Kapolres Buru menyambut baik massa aksi dan berdialog terkait penertiban dan penataan kawasan demi kesejahteraan masyarakat. Namun, warga tetap konsisten menolak sepuluh koperasi yang akan beroperasi di kawasan tanah adat Gunung Botak, meskipun penataan tersebut diklaim bertujuan agar wilayah dapat dikelola dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Penulis: SAWAL SANANGKAEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *