Debat publik terakhir Pilkada Jombang 2024 berlangsung di Ballroom Hotel Yusro dan berlangsung riuh sorak sorai pendukung pada hari Sabtu, 16 November 2024.
Dalam debat terakhir itu KPU memberikan kesempatan kepada kedua kontestan Pilkada Jombang untuk didampingi oleh 125 orang pendukungnya. KPU juga menghadirkan 5 orang panelis yaitu Ali Hamdan, Lc., MA., Ph.D, dosen Fakultas Syariah dan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Slamet Hermansyah SH pegiat Pemilu JPPR Jatim, serta Dr Drs M Shoim Anwar MPd dosen Universitas Adi Buana Surabaya.
Panelis berikutnya yakni Moh. Maskurudin Hafid SHi Direktur Akademi Pemilu dan Demokrasi-APD serta Moh. Aan Anshori Amd SH MH (Dosen School of Entrepreneurship and Humanities Universitas Ciputra Surabaya).
Paslon nomor urut 01 Mundjidah Wahab – Sumrambah dan Paslon nomor urut 02 Warsubi – Salmanudin Yazid tak sungkan saling melontarkan sindiran saat debat berlangsung yang membuat suasana menjadi semakin semarak.
Dalam pembahasan panas masalah stunting hingga contekan yang dibawa di panggung debat membuktikan bahwa kontestasi untuk mendapatkan kursi Jombang 1 bakal berlangsung sangat sengit.
Tanya jawab soal kasus stunting menjadi sangat riuh dan suasana menjadi panas, semua berawal saat putri pendiri NU Mundjidah Wahab bertanya kepada Paslon 02 Warsubi – Salman.
“Berapa target Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang bisa dicapai Jombang, juga strategi apa yang dilakukan. Karena saat ini (IPKM) Nasional adalah 0.7,” tanya Mundjidah ke Paslon 02.
Yang membuat riuh pendukung dan suasana semakin panas saat Mundjidah Wahab menyinggung Desa Mojokrapak yang pernah dipimpin Warsubi sebagai lokus stunting terbanyak ke-5 di Jombang.
“Bagaimana cara anda mengatasi stunting, mengingat desa yang pernah bapak pimpin yakni Desa Mojokrapak menjadi daerah lokus stunting,” lontar Mundjidah Wahab.
Sontak pertanyaan tersebut membuat pendukung 01 bersorak riuh dan membuat suasana menjadi panas.
“Stunting bukan masalah tanggung jawab kepala desa saja, namun juga menjadi tanggung jawab bupati selaku pemegang anggaran,” jawab Warsubi.
Warsubi menjelaskan soal Desa Mojokrapak yang menjadi lokus stunting. Ia menyebut bahwa penanganan di Desa Mojokrapak lebih baik jika dibandingkan rata-rata kabupaten. Warsubi memaparkan bahwa dari 2021 ada 30 kasus, 2022 ada 22 kasus, dan 2023 ada 15 kasus di desanya. Dari 376 balita berarti ada 3,9 persen dari kasus yang ada di Desa Mojokrapak.
“Kalau dilihat dari data Kabupaten Jombang ada 73.000 kelahiran dan ada 37.000 balita, itu balita yang mengalami stunting ada 3.633 anak, berarti ada 4,9 persen di Jombang. Hal itu menunjukkan bahwa penanganan stunting di Desa Mojokrapak masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata stunting di kabupaten,” tegas Warsubi.
Bagi Warsubi penanganan kasus stunting begitu penting. Pertumbuhan anak-anak harus diperhatikan, karena itu ia menilai pertumbuhan tulang pada anak harus diperbaiki, perlu ditambahkan makanan bergizi.
Usai Warsubi menjawab, moderator memberikan kesempatan pasangan 01 untuk merespons.
Sumrambah membuat riuh suasana debat di Ballroom Hotel Yusro lantaran menyinggung masalah catatan (contekan).
“Saya menikmati debat di akhir-akhir, bagaimana kami bisa menikmati debat kalau semua jawaban hanya bisa membaca, sedangkan kami berpikir untuk menjawabnya,” sindirnya.
“Ada hal menarik, Surat Keputusan (SK) Bupati nomor 188.4.45/79/415.10.1.3/2024 tentang lokus Prioritas Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten Jombang, bahwa lokus stunting nomer 1 ada di Rejoagung dan nomer 5 ada di Mojokrapak,” lanjut Sumrambah.
Respon jawaban tersebut membuat seisi ruangan menjadi riuh meriah karena kandidat saling serang menggunakan argumen data.
Selanjutnya atas jawaban Sumrambah itu, pasangan 02 Gus Salman ganti merespon Sumrambah.
Gus Salman mengatakan jika catatan yang dibawanya lebih sedikit. “Kalau masalah ‘NGERPEK’ (mencontek) ya sama saja, malah contekan saya mek titik (sedikit), tinggal ‘NGERPEKNYA’ (nyonteknya) tepat atau tidak gitu saja,” tandasnya.
Jawaban dari Gus Salman disambut riuh pendukung pasangan Warsubi – Salman dengan sorak sorai dan tepuk tangan.
Debat ini menjadi debat terakhir menjelang pencoblosan 27 November 2024 mendatang.















