Tradisi Sewelasan, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang Mendadak jadi Tempat Wisata Kuliner Musiman

Tradisi sewelasan yang dilakukan oleh para jama’ah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyahbandiyah yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum pada 16/7/2024 telah berlangsung sejak lama.

Tradisi ini diselenggarakan 3 kali dalam setahun, ketika tanggal 10 muharam (10 bulan suro), ketika malam 15 sya’ban atau malam nisfu sya’ban atau lebih populer juga disebut “Sya’banan”, dan ketika wafatnya Syeikh Abdul Qadir Al Jailani yang bertepatan dengan tanggal 11 Robi’ul akhir atau 11 Ba’da Mulut kalau hitungan bulan jawa.

Tradisi ini diikuti oleh para jama’ah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyahbandiyah tidak hanya dari luar Jombang saja, bahkan ada yang dari luar Jawa Timur bahkan ada yang dari luar Jawa.

Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi tradisi ini juga memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar bahkan juga para pedagang musiman yang tiba-tiba berduyun-duyun memanfaatkan momentum dan kesempatan yang jarang sekali terjadi.

Tradisi sewelasan berasal dari bahasa jawa yang artinya adalah bilangan belasan. Dalam pelaksanaannya tradisi ini dilaksanakan pada 10 muharam, malam 15 Sya’ban dan 11 Robiul Akhir.

Pondok Pesantren Darul Ulum didirikan oleh KH Tamim Irsyad dan menantunya KH Cholil pada tahun 1885 di Desa Rejoso Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang.

Kata Darul Ulum berasal dari kata “Darul” yang artinya adalah gudang, sedangkan “Ulum” artinya adalah jamak dari ilmu.

Penulis: HASAN CHOIRUDDIN AEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *