Tak Terima Dikritik, Oknum Kepala Desa Bombana Diduga Aniaya Warganya

Insiden menghebohkan terjadi di Desa Kalaero, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, ketika seorang Kepala Desa dilaporkan menganiaya warganya sendiri akibat komentar di media sosial Facebook Jumat, (19/07/2024) sekitar pukul 08.30 WITA bertempat di Kantor Desa Kalaero.

Menurut laporan, kejadian bermula saat seorang warga desa berinisial (FIB) menuliskan komentar yang dianggap kritis terhadap pelayanan publik di Pemerintahan Desa Kalaero yang pelayanannya terkesan berbelit-belit dan juga kinerja dari Kepala Desa berinisial (S) yang kurang memuaskan, dan dipostinglah di sebuah grup Facebook lokal, dan memicu kemarahan sang Kepala Desa.

Tidak terima dengan komentar tersebut, Kepala Desa berinisial (S) memanggil korban untuk ke Kantor Desa guna dimintai klarifikasi, namun setibanya disana terjadilah dugaan tindak pidana penganiayaan dan pengrusakan handphone milik korban. Kejadian tersebut juga disaksikan oleh sebagian besar aparat desa dan juga anggota keluarga dari pihak korban.

“Handphone saya dibanting dan dihancurkan kemudian ditendang di bagian perut dan ada anak saya yang berteriak histeris ketakutan melihat kejadian di Kantor Desa Kalaero,” ujar FIB Kamis, (01/08/2024).

“Sebagai bukti, saya merekam semua kejadian mulai dari awal datang ke Kantor Desa hingga balik ke rumah,” tambahnya.

Kepala Desa berinisial (S), yang sebelumnya dikenal memiliki hubungan baik dengan warganya, kini harus berurusan dengan pihak berwajib. Kasus ini tengah ditangani oleh Polsek Lantari Jaya dan telah dilimpahkan ke Polres Bombana untuk ditindak lanjuti.

Sementara itu, warga desa merasa terkejut dan kecewa atas perilaku Kepala Desa yang dianggap tidak pantas. Mereka berharap ada tindakan tegas dari pihak berwajib agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Korban berinisial (FIB) menyampaikan bahwa dirinya hanya ingin mengungkapkan pendapatnya sebagai warga yang peduli dengan kemajuan desa. “Saya tidak pernah menyangka hal ini akan berakhir dengan kekerasan. Saya hanya ingin desa kita lebih baik,” katanya.

Kasus ini menjadi peringatan bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga etika dan kedewasaan dalam berinteraksi di media sosial. Konflik yang berawal dari dunia maya seharusnya tidak berlanjut ke dunia nyata dengan cara yang merugikan semua pihak.

Penulis: ODE UNDU, S.LingEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *