JOMBANG — Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) terpilih menggelar Sidang Pleno tertutup di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam. Persidangan yang dimulai tepat pukul 21.15 WIB tersebut dijaga ketat oleh personel Banser dan Pagar Nusa demi menjamin kekhusyukan serta keamanan para kiai sepuh.
Agenda utama Sidang Pleno AHWA kali ini adalah memusyawarahkan sosok Rais Aam sekaligus menentukan lima nama kandidat yang berhak maju ke bursa pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026–2031.
Pengamanan Super Ketat di Area Ndalem Kasepuhan
Suasana di sekitar lokasi persidangan tampak dijaga penuh dengan skema pengamanan berlapis. Barikade personil Banser dan Pagar Nusa disiagakan di setiap titik akses menuju Ndalem Kasepuhan guna memastikan tidak ada pihak luar yang mengganggu jalannya musyawarah tertutup sembilan ulama alim tersebut.
Pengetatan ini dilakukan mengingat pentingnya keputusan yang akan dilahirkan oleh dewan AHWA untuk menentukan nakhoda jam’iyah NU lima tahun ke depan.
Masyayikh dan Tokoh Muda Mengawal di Luar Gelanggang
Di luar area persidangan, sejumlah ulama dan dai muda karismatik tampak hadir membaur bersama ribuan warga Nahdliyin yang memadati Kompleks Ponpes Bahrul Ulum. Di antaranya terlihat KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), serta KH Abdul Kholiq Ahmad.
Para kiai dan jemaah yang hadir memanjatkan doa bersama agar proses musyawarah dewan AHWA berjalan lancar, teduh, serta melahirkan keputusan yang membawa maslahat bagi umat, bangsa, dan negara.
Seluruh peserta dan warga Nahdliyin kini menantikan hasil keputusan resmi dari sidang tertutup sembilan kiai sepuh AHWA yang akan menjadi penentu jalannya Sidang Pleno pemilihan Ketua Umum PBNU selanjutnya.












