Ramai Spekulasi HAARP di Balik Erupsi Gunung Berapi, Pakar Geologi Tegaskan Murni Fenomena Alam

JAKARTA — Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, memicu perbincangan publik di ruang digital. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Ulta melontarkan pandangan spekulatif yang mengaitkan rangkaian erupsi enam gunung berapi di Indonesia dengan keberadaan teknologi militer luar negeri dan dinamika geopolitik.

Dalam unggahan tersebut, Ulta mempertanyakan apakah aktivitas vulkanik yang terjadi dalam waktu berdekatan murni merupakan fenomena alam, atau ada indikasi keterlibatan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP)—sebuah fasilitas penelitian ionosfer asal Amerika Serikat yang kerap dikaitkan dengan berbagai teori modifikasi cuaca.

Ia menyinggung aspek geopolitik dengan mengaitkan waktu terjadinya erupsi dengan agenda pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Vladivostok.

“Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?” tulis Ulta. Ia juga menyadari bahwa pandangannya berpotensi memicu perdebatan dan mengaku sekadar membuka ruang diskusi. “Walau tak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran,” tambahnya.

Bantahan Ilmiah dan Respons Publik

Pandangan spekulatif tersebut dengan cepat menuai beragam reaksi dari warganet di berbagai platform media sosial. Sebagian besar publik menilai pernyataan tersebut tidak berdasar dan mengabaikan kajian saintifik dari para ahli. “Alam saja kena fitnah,” tulis salah satu pengguna media sosial merespons isu tersebut.

Guna meredam disinformasi di tengah masyarakat, para pakar geologi dan vulkanologi memberikan penegasan secara keilmuan. Para ahli menegaskan bahwa rentetan aktivitas erupsi pada enam gunung berapi tersebut merupakan dinamika vulkanik alami.

Fenomena tersebut murni disebabkan oleh pergerakan magma di bawah permukaan bumi yang prosesnya berdiri sendiri-sendiri pada tiap gunung. Para ahli memastikan bahwa aktivitas kegunungapian di Indonesia sama sekali tidak memiliki kaitan dengan teknologi pemancar frekuensi buatan manusia maupun agenda politik global mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *