JOMBANG | Insiden pengusiran wartawan oleh oknum kembali terjadi saat warga Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Jombang yang saat itu hendak mediasi bersama PT. Protelindo perihal tuntutan kompensasi dengan menghadirkan pihak awak media salamolahraga.com pada hari Jumat (11/10) pukul 10.00 WIB.
Kegaduhan dan keresahan warga dipicu karena pihak perusahaan dinilai tidak adil dan mencari keuntungan sendiri tanpa memikirkan warga terdampak di sekitar lokasi tower.
Tower BTS milik Protelindo di Desa Plemahan sudah berdiri sejak 2006 dengan perjanjian sewa lahan dan kompensasi warga selama 10 tahun. Dengan berakhir masa izin sewa lahan pada 2016 pihak perusahaan tidak menjalankan kewajiban sebagaimana perjanjian hingga sekarang. Warga mengeluhkan kewajiban perusahaan yang tak kunjung diselesaikan.
Sebelumnya, pada hari Senin (9/9) pukul 19.26 WIB warga beramai-ramai melakukan penyegelan sementara di area tower tersebut.

Warga mengundang awak media salamolahraga.com yang juga merupakan penduduk Desa Plemahan. Permintaan warga menghadirkan awak media guna menjembatani aspirasi antara warga dengan perusahaan.
Pihak Protelindo mengirimkan 1 perwakilan dari perusahaan tersebut yakni Ivana/Riani dengan maksud untuk menyelesaikan keluhan warga yang terdampak langsung.
Pertemuan dimulai sembari Ivana/Riani memperkenalkan diri pada warga yang saat itu awak media salamolahraga.com sebut (Kenzo) juga memperkenalkan diri pada Ivana/Riani.
“Saya disini sebagai warga Plemahan juga selaku media yang diundang warga sebagai penyambung aspirasi warga,” terang Kenzo.
Dengan murka Ivana/Riani menanyakan keperluannya dalam mediasi dengan warga. “Mohon maaf waktu saya tidak banyak, keperluan anda disini apa, saya tidak butuh media saya hanya butuh dengan warga yang terdampak. Kalo boleh warga menghendaki yang keluar anda (Kenzo) atau saya kalau ingin segera selesai,” ancam Ivana/Riani.
Kenzo yang tak ingin warganya terkena bujuk dan intimidasi dari perwakilan awak perusahaan Protelindo menyampaikan, “Baik demi keberlanjutan musyawarah ini saya kembalikan ke warga dan saya keluar seperti yang anda harapkan. Tapi saya berpesan jangan sampai ada intimidasi terhadap warga,” ujar Kenzo mengalah agar masalah segera dapat selesai.
Menurut keterangan warga pada awak media dari hasil musyawarah tersebut tidak menemukan titik temu.
“Bagaimana kita setuju, pilihan yang diajukan pada warga sangat tidak masuk akal. Warga hanya akan diberi uang tali asih bukan kompensasi yakni sebesar 5 juta yang harus dibagi untuk 10-20 orang. Ditambah lagi pihak perusahaan akan memberikan kontrak ulang di tahun 2026 dengan ketentuan perjanjian berjalan. Dan jika dirasa uang tali asih 5 juta kurang, dirinya (Ivana/Riani) akan mengajukan permohonan kembali,” terang warga dengan kesal.
Warga lain juga menuturkan bahwa insiden pengusiran pihak awak media karena menurut pihak Protelindo, kelas media salamolahraga.com segmen kecil dan masih baru yang tak dapat diperhitungkan kredibilitasnya, beda dengan media Jawa Pos.
“Ivana/Riani menyampaikan pada kami bahwa media salamolahraga.com adalah media baru dan segmennya sangat kecil ketika dicek oleh perusahaannya. Beda dengan media Jawa Pos di Surabaya yang bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya. Menurut perusahaan yang di pusat (Jakarta) mangatakan bahwa media itu (salamolahraga.com) hanya mencari keuntungan saja dari warga/ hanya numpang saja. Selama perusahaan Protelindo berdiri tidak ada warga yang berani menuntut. Pernah ada tapi yang namanya menggugat pasti butuh banyak uang. Apakah warga punya cukup banyak uang untuk menggugat,” jelas warga mengulas omongan dari pihak Protelindo.













