YAHUKIMO — Insiden kandasnya satu unit mobil Triton double cabin akibat arus deras dan terjangan lumpur di Kali Yetni, Senin (30/3/2026), kembali menjadi sorotan tajam. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan cermin retaknya infrastruktur yang menghubungkan urat nadi ekonomi di wilayah Papua Pegunungan.
Kali Yetni telah lama dikenal sebagai “titik maut” bagi pengendara rute Tangma–Wamena, Ibiroma–Wamena, dan Kurima–Wamena. Curah hujan tinggi kerap mengubah jalur ini menjadi jebakan banjir yang tidak hanya menghambat logistik, tetapi juga telah memakan korban jiwa.
Dampak Ekonomi yang Membusuk
Tokoh masyarakat setempat, Yosep Heselo, menegaskan bahwa keterlambatan di Kali Yetni berdampak langsung pada isi piring dan dompet masyarakat. Produk pertanian unggulan seperti sayur-mayur dan buah-buahan yang seharusnya tiba segar di pasar Kota Wamena seringkali layu bahkan membusuk di perjalanan.
Kondisi ini memicu rantai kerugian sistematis:
-
Kerugian Finansial: Petani dan pedagang kehilangan modal serta potensi keuntungan harian.
-
Ketidakpastian Pasokan: Harga komoditas di perkotaan melambung tinggi akibat akses distribusi yang tidak stabil.
-
Hambatan SDM: Akses pendidikan dan layanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman ikut terisolasi saat jalur ini terputus.
Kritik Keras: Pemerintah Jangan Tutup Mata
Yosep Heselo menilai pembangunan ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kerap didengungkan pemerintah akan menjadi jargon kosong jika infrastruktur dasar seperti jembatan permanen di Kali Yetni terus diabaikan.
“Membangun daerah dimulai dari menjamin kelancaran akses rakyatnya. Membiarkan Kali Yetni terus memakan korban adalah bentuk pengabaian terhadap hak ekonomi masyarakat,” tegas Heselo.
Sinergi Antar-Daerah Adalah Keharusan
Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, bersama Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Jayawijaya, duduk bersama untuk melakukan aksi nyata. Jalur ini merupakan penghubung vital lintas kabupaten yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dibutuhkan langkah teknis segera, mulai dari normalisasi aliran sungai hingga pembangunan jembatan permanen, agar nyawa manusia dan urat nadi logistik tidak lagi menjadi taruhan di setiap musim penghujan.












