Isu Makanan Bermasalah di SMPN 1 Kalikotes, SPPG Satya Haprabu: Data Tidak Sinkron dan Minim Bukti Visual

KLATEN — Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Satya Haprabu akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan masalah pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Kalikotes, Klaten. Perwakilan SPPG Satya Haprabu, Aan Abdul, menegaskan bahwa informasi yang berkembang di publik saat ini tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta lapangan dan cenderung tanpa data yang lengkap.

Pihak SPPG menyayangkan adanya klaim temuan kualitas makanan yang tidak disertai bukti konkret, sehingga memicu kebingungan di masyarakat.

Kejanggalan Data Jumlah Siswa Terdampak

Aan Abdul mengungkapkan adanya ketidakkonsistenan data mengenai jumlah siswa yang mengalami gejala gangguan kesehatan. Berdasarkan investigasi langsung di sekolah pada hari kejadian, hanya ditemukan sekitar delapan siswa yang mengeluhkan sakit perut dan muntah.

“Ini yang membuat kami bingung. Dari delapan siswa tersebut, bahkan ada sebagian yang ternyata belum sempat mengonsumsi menu MBG hari itu. Namun, data yang berkembang kemudian justru membengkak hingga angka puluhan,” ujar Aan dalam keterangannya, Senin (13/04/2026).

Soroti Minimnya Bukti Visual Terkait Kualitas Daging

Menanggapi isu adanya belatung dan daging ayam yang masih berbulu, Aan menekankan perlunya transparansi data. SPPG Satya Haprabu pada hari tersebut mendistribusikan total 1.905 porsi makanan ke 18 sekolah, di mana 907 porsi di antaranya dikirim ke SMPN 1 Kalikotes.

“Laporan yang masuk tidak dilengkapi dengan data atau bukti foto bahwasanya ada daging ayam yang masih berbulu. Kita tidak tahu apakah dari 907 porsi itu ada bulunya semua atau tidak. Meski begitu, temuan sekecil apa pun tetap menjadi teguran keras bagi kami untuk meningkatkan kualitas dan kontrol dapur,” tegasnya.

Produksi Sesuai SOP dan Uji Laboratorium

Aan memastikan bahwa seluruh proses produksi, mulai dari jenjang TK hingga SMP, dilakukan secara bersamaan sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG telah menyerahkan sampel makanan ke Dinas Kesehatan melalui puskesmas setempat untuk dilakukan uji laboratorium secara menyeluruh.

Pihak SPPG juga mengimbau agar faktor eksternal turut dipertimbangkan, mengingat banyak makanan di luar lingkungan sekolah yang tidak terkontrol dan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan siswa.

Hingga saat ini, SPPG Satya Haprabu tetap beroperasi di bawah arahan pihak terkait. Distribusi di 17 sekolah lainnya dilaporkan berjalan normal tanpa ada kendala kesehatan maupun kualitas makanan, memperkuat indikasi bahwa proses produksi massal di dapur utama dalam kondisi aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *