Arak-arakan Hewan Qurban ala Warga Kalitutup Gresik

Minggu (16/6) sore Jl. KH. Hasyim Asy’ari atau yang dikenal warga lokal dengan sebutan Kalitutup benar-benar ditutup untuk kegiatan arak-arakan hewan qurban.

Acara yang bertitel Culture and Traditions Eid Adha Kalitutup ini dibuka dan dilepas oleh Camat Gresik, Jalesvie Triatmoko, S.S.

Arak-arakan qurban ini dimulai dari Jl. KH. Hasyim Asy’ari lalu melewati Jl. Sidujoyo dan kemudian di Jl. Samanhudi kemudian berakhir kembali di Jl. Hasyim Asy’ari.

Ada empat kelurahan yang dilewati kegiatan ini yakni Kelurahan Sukodono, Kroman, Lumpur dan Karangpoh.

“Kegiatan ini adalah syi’ar bahwa besok adalah Idul Adha, sehingga dengan semarak Idul Adha dimulai dengan arak-arakan hewan qurban. Estimasi kita sekitar 200an peserta bukan hanya dari Sukodono tetapi ada juga dari Lumpur maupun Tlogopojok, bahkan dari luar kecamatan seperti dari GKB juga ikut ambil bagian. Harapan kami selaku pemerintahan Kabupaten Gresik di tahun depan semakin baik, semakin meriah dan kedepannya menjadi event kabupaten,” tandas Pak Camat didampingi Lurah Sukodono selaku tuan rumah acara, Ainur Roziqin, S.E.

Sementara itu, Muhammad Nuruddin selaku Ketua Pelaksana menandaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara terbuka untuk seluruh masyarakat. Dan itu dibuktikan dengan peserta yang bukan hanya dari Kelurahan Sukodono tapi juga dari Kelurahan Kroman dan Kelurahan Lumpur. Bahkan dari kecamatan lain juga ikut ambil bagian.

“Tujuan dari acara ini adalah untuk memberi motivasi agar para warga juga bersemangat menunaikan ibadah qurban,” ujar pemuda asli Sukodono ini.

Sementara di tempat terpisah, budayawan dan juga Litbang Dewan Kebudayaan Gresik, Ali Murtadho menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki potensi jadi tradisi baru di masyarakat.

“Barangkali masih bisa diingat, di masa kecil kita dulu, kerap kita jumpai orang yang hendak berkurban memandikan hewan kurbannya, menghiasinya menjadi cantik, dibuatkan kalung bunga dan diberi wewangian, kemudian diantar ramai-ramai ke tempat penyembelihan kurban. Kegiatan seperti ini bermuatan magis dan bisa berpotensi menjadi sebuah tradisi baru di masyarakat,” tandasnya.

Penulis: BAMBANG SOERYANTOEditor: SNF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *