BEKASI — Panggilan kemanusiaan membawa perwakilan Keluarga Besar Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, Muhifudin, kembali ke tanah kelahirannya di Aceh. Bukan untuk bersantai, melainkan untuk mengantarkan bantuan langsung bagi para korban banjir dan tanah longsor di wilayah terisolasi, Aceh Utara, pada 1 hingga 3 Januari 2026.
Sebagai putra daerah asli Aceh, Muhifudin merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah duka masyarakat, meskipun kini ia bertugas jauh di Bekasi.
Terjang Arus Sungai Deras Menuju Desa Terisolasi
Perjalanan Muhifudin dan tim menuju lokasi terdampak, khususnya di Desa Serah Raja, Kabupaten Aceh Utara, bukanlah hal mudah. Akibat jalur darat yang terputus total oleh material longsor, satu-satunya akses adalah melalui jalur sungai.
Tim harus menempuh perjalanan selama dua jam mengarungi sungai besar dengan arus yang sangat deras menggunakan perahu sederhana.
“Medannya cukup berat. Arus sungai deras dan cuaca tidak selalu bersahabat. Namun semua rasa lelah itu terbayar ketika kami bisa sampai dan bertemu langsung dengan warga,” ungkap Muhifudin saat ditemui di Bekasi, Rabu (7/1/2026).
Kolaborasi Insan Peradilan dan Akademisi
Bantuan berupa kebutuhan pokok ini merupakan hasil donasi dari Keluarga Besar PN Bekasi serta dukungan dari Hakim Agung Republik Indonesia asal Aceh, YM Ainal Mardhiah.
Dalam penyalurannya, tim juga berkolaborasi dengan BNPB setempat serta civitas akademika Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Sinergi ini bertujuan agar bantuan dapat menjangkau titik-titik yang paling parah terdampak dan sulit diakses.
Wujud Pengabdian dan Nilai Kemanusiaan
Muhifudin bukanlah sosok asing bagi masyarakat setempat, mengingat ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Lhoksukon. Baginya, aksi sosial ini adalah bentuk pengamalan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, terutama nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
“Bantuan ini mungkin tidak seberapa, tapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penghibur di tengah duka yang dirasakan masyarakat,” tutup Muhifudin penuh empati.
Kehadirannya membuktikan bahwa meski telah lama merantau, panggilan untuk membantu saudara di tanah kelahiran tidak pernah pudar.












