Malam Tirakatan Hardiknas: K3S Juwiring Gencarkan Strategi Jemput Bola, Korwil Pedan Soroti Karakter Siswa

KLATEN — Malam Tirakatan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) digelar serentak di sejumlah wilayah Kabupaten Klaten pada Jumat (01/05/2026) malam. Di Kecamatan Juwiring dan Pedan, kegiatan tahunan ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi capaian sekaligus tantangan dunia pendidikan di era digital.

Juwiring: Strategi “Jemput Bola” Hadapi Persaingan

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Juwiring, Widodo, memaparkan bahwa implementasi kurikulum baru di wilayahnya telah berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh siswa. Namun, ia mengakui kesenjangan sarana dan prasarana (sarpras) antar-satuan pendidikan masih menjadi kendala utama.

Menghadapi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, K3S Juwiring mengambil langkah proaktif agar sekolah negeri dapat bersaing dengan sekolah swasta. Widodo menginstruksikan seluruh kepala sekolah untuk tidak hanya menunggu calon siswa mendaftar.

“Kami mencanangkan strategi jemput bola. Kepala sekolah harus melakukan aksi door-to-door ke rumah calon siswa. Selain itu, tiap sekolah wajib aktif di media sosial untuk mempromosikan keunggulan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan ekstrakurikuler mereka,” tegas Widodo di kantor Korwil Pendidikan Juwiring.

Pedan: Tantangan Kemerosotan Karakter di Era Teknologi

Bergeser ke Kecamatan Pedan, Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan, Drs. Edi Pranowo, memberikan catatan kritis terhadap kondisi moralitas siswa saat ini. Menurutnya, meskipun penguasaan pengetahuan siswa meningkat pesat berkat teknologi, hal itu berbanding terbalik dengan kualitas karakter.

“Dari segi pengetahuan mungkin lebih, tetapi secara karakter agak kurang, kemungkinan besar karena dampak kemajuan teknologi. Karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah mencetak anak didik yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan berakhlak,” ujar Edi Pranowo.

Refleksi dan Penghormatan Tokoh Pendidikan

Meski dilaksanakan di lokasi berbeda, kedua wilayah ini membawa semangat refleksi yang sama, yakni menghargai jasa para pejuang pendidikan terdahulu. Widodo menekankan bahwa kemajuan pendidikan Indonesia saat ini adalah buah dari kerja keras para pendahulu yang harus dijaga kualitasnya.

Acara Malam Tirakatan di kedua kecamatan tersebut ditutup dengan prosesi potong tumpeng dan doa bersama, sebagai simbol rasa syukur dan harapan untuk masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *