KUALA LUMPUR — Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memberikan jaminan resmi bahwa kapal-kapal tanker milik negaranya tetap diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan. Kepastian ini muncul di tengah meningkatnya tensi militer antara Iran dan pihak Barat yang sempat memicu kekhawatiran global akan penutupan jalur maritim paling strategis di dunia tersebut.
Berdasarkan laporan Bernama pada Jumat (27/3/2026), jaminan ini merupakan hasil dari koordinasi diplomatik intensif yang dilakukan pemerintah Malaysia guna memastikan jalur perdagangan energi nasional tidak terdampak konflik.
Aktivitas Pelayaran Berjalan Normal
Anwar menegaskan bahwa berdasarkan informasi dan jaminan diplomatik yang diterima, aktivitas pelayaran komersial Malaysia, terutama yang mengangkut komoditas energi, masih beroperasi sesuai jadwal. Hingga saat ini, belum ada kendala berarti yang dialami armada Malaysia di wilayah perairan Teluk.
“Jalur distribusi kita masih berjalan normal. Fokus kami adalah memastikan stabilitas pasokan energi di tengah situasi pusat perhatian global ini,” ujar PM Anwar.
Stabilitas Ekonomi Domestik Jadi Prioritas
Kepastian keamanan ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi domestik Malaysia. Dunia internasional sebelumnya sempat khawatir akan adanya lonjakan harga minyak mentah jika Selat Hormuz benar-benar ditutup akibat konflik bersenjata.
Sebagai salah satu negara pengekspor minyak dan gas utama di Asia Tenggara, keamanan Selat Hormuz merupakan prioritas vital bagi Malaysia. Jalur ini adalah urat nadi bagi kelancaran rantai pasok energi baik untuk pasar internasional maupun pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Posisi Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz dikenal sebagai titik transit minyak paling krusial di dunia, di mana hampir seperlima dari konsumsi minyak global melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya. Dengan jaminan keamanan ini, Malaysia optimis dapat menjaga ritme ekspor energinya tanpa harus menghadapi risiko gangguan distribusi yang signifikan.
Pemerintah Malaysia menyatakan akan terus memonitor perkembangan geopolitik di Timur Tengah secara berkala dan tetap mengedepankan jalur diplomasi netral untuk melindungi kepentingan ekonomi nasional di kancah global.












