Berbicara tentang Jombang, yang terbersit dalam benak kita mungkin adalah kota santri, mungkin juga kota seribu pondok. Tapi tahukah anda jika ada kampung di Jombang yang penduduknya menganut 3 agama yaitu Islam, Kristen dan Hindu, kampung itu bernama Ngepeh.
Dusun Ngepeh masuk dalam Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro terletak beberapa puluh kilo meter sebelah tenggara pusat Kota Jombang. Wilayah ini lebih dekat dengan Kecamatan Kandangan yang secara administratif masuk Kabupaten Kediri.
Peringatan hari raya Pagerwesi bagi umat Hindu 17/7/2024 kemarin menjadi momentum bagi komunitas Gusdurian Jombang untuk mempererat silaturahmi dan tali persaudaraan antar anak bangsa lintas agama.
Komunitas yang digawangi oleh Ning Emma dan kawan-kawan ini disambut dengan kehangatan layaknya seorang saudara. Dalam kesempatan kemarin diterima langsung oleh Bapak Pranatik, tokoh agama Hindu sekaligus pemangku pura Amerta Buana.
Hari raya Pagerwesi adalah hari raya yang jatuh pada Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari raya ini diperingati tiap 210 hari sekali, yang tepat jatuh pada tanggal 17 Juli kemarin.
Umat Hindu punya beberapa hari raya, diantaranya adalah hari raya Galungan, hari raya Kuningan, hari raya Saraswati dan hari raya Pagerwesi, tetapi yang dijadikan hari libur nasional hanya hari raya Nyepi.
Hari raya Pagerwesi ini berasal dari kata “Pager” yang artinya pagar dan “Wesi” yang artinya besi.
Hari raya ini diperingati untuk memperteguh keimanan dengan bekal ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Tuhan. Upacara ini dimulai dengan menghanturkan persembahan di sanggah (semacam candi kecil di dekat rumah) kemudian berlanjut ke pura di area desa.
Bapak Pranatik mengatakan bahwa Tuhan itu tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan dan manusia hidup di dunia ini harus memiliki keteguhan iman.
Kunjungan teman-teman dari Gusdurian ini dalam rangka merajut kebersamaan di tengah perbedaan, dan mempererat tali persaudaraan di tengah kebhinekaan.
Belajar toleransi dari Kampung Ngepeh tak ubahnya sebuah “oase” di tengah maraknya konflik yang mengatasnamakan agama di berbagai tempat dan belahan dunia lainnya. Pak Pranatik juga bercerita bahwa di Ngepeh ini ada 5 musholla, 1 masjid, 2 gereja dan 1 pura. Jika satu rumah terjadi perbedaan keyakinan itu adalah hal yang lumrah, beliau juga mengatakan bahwa ayah beliau beragama hindu, sedang adiknya beragama kristen, sementara adik sepupunya justru menjadi mudin sekaligus kiai kampung di desa tersebut.
Toleransi ini sudah terjalin sejak puluhan tahun, lebih tepatnya pasca G30SPKI sekitar tahun 1967. Rasa toleransi dan kerukunan ini masih terjalin hingga kini, letak gereja dengan pura hanya dipisahkan oleh sungai dan tidak pernah ada gesekan atau konflik karena perbedaan keyakinan, dikarenakan juga mayoritas penduduk desa ini masih memiliki tali persaudaraan.
Pelangi itu tak akan terlihat indah jika hanya satu warna, sebuah bangunan akan berdiri kokoh jika materialnya berbeda, ada batu bata, semen dan pasir. Di dunia ini tak akan ada yang namanya cinta, jika semua orang diciptakan dalam bentuk wajah yang sama. Jadikan perbedaan itu sebagai sumber kekuatan dan persatuan, janganlah perbedaan itu kita jadikan alasan untuk saling bermusuhan, karena perbedaan itu indah.













