10 Tahun Mangkrak, Proyek Pasar Rakyat Simpang Peut Nagan Raya Senilai Rp15 Miliar Jadi “Gedung Hantu”

NAGAN RAYA — Sebuah ironi besar terjadi di pusat ekonomi Kecamatan Kuala. Gedung Pasar Rakyat Simpang Peut, yang dibangun di lokasi strategis bersebelahan dengan Desa Ujong Pasi, kini dalam kondisi terbengkalai selama satu dekade terakhir. Proyek yang menelan uang negara lebih dari Rp15 miliar tersebut kini hanya menjadi monumen mati yang manfaatnya nihil bagi masyarakat.

Meski letaknya hanya berjarak 1 km dari pusat kota dan berdiri di atas lahan luas sekitar 2 hektare, pembangunan pasar ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan dilanjutkan meski telah berganti tiga periode kepemimpinan Bupati.

Fasilitas Mewah yang Terbuang Sia-sia

Berdasarkan pantauan tim di lapangan pada Selasa (20/1/2026), infrastruktur pasar ini sebenarnya tergolong mewah. Akses jalan di sekitar lokasi pun sudah menggunakan aspal beton, termasuk jalan lingkar Simpang Peut – Ujong Patihah yang sangat menunjang mobilitas.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: siapa yang salah? Perencanaan awal proyek ini diklaim telah melalui kajian matang, namun kegagalan pemerintah terdahulu dalam melanjutkan pembangunan membuat aset negara tersebut kini rusak dimakan waktu.

Desakan Forum Kuala Sepakat (FOKUS)

Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Forum Kuala Sepakat (FOKUS), H. Darwin Saleh, memberikan kritik tajam dan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Sebagai pemerhati masyarakat, ia merasa miris melihat kondisi pedagang pasar pagi saat ini yang masih berjualan di bawah atap plastik tanpa bangunan permanen.

“Pasar pagi yang ada sekarang di Simpang Peut sangat tidak layak. Tanpa bangunan, hanya beratap plastik, dan sangat miris saat musim hujan tiba. Kami meminta Bupati ke depan harus melanjutkan pembangunan Pasar Rakyat ini agar uang rakyat tidak terbuang sia-sia,” tegas H. Darwin.

Pusat Ekonomi dan Kebangkitan UMKM

Pasar sejatinya adalah urat nadi ekonomi daerah. Dengan luas 2 hektare, Pasar Rakyat Simpang Peut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kemajuan UMKM di Nagan Raya jika dikelola secara profesional.

Terbengkalainya proyek ini selama 10 tahun tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat pedagang. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah saat ini untuk membuktikan komitmen mereka terhadap peningkatan ekonomi rakyat kecil melalui revitalisasi pasar mangkrak tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *