Sepanjang jalan raya KH Hasyim Asy’ari, jalan yang membentang dari perempatan stasiun Jombang hingga perempatan Balongbesuk tepatnya di makam panjang Parimono terdapat berjejer angkringan.
Ada satu angkringan yang sedikit menyita perhatian, gadis cantik berjilbab berusia 25 tahun ini membuka usaha angkringan di kawasan makam Parimono tersebut. Kawasan ini ada beberapa orang menyebut angkringan KPK yang merupakan kepanjangan dari Kopi Pinggir Kuburan.
Mei Nur Aisyah, gadis yang akrab dipanggil Mei ini lahir di bulan yang sesuai namanya, tepatnya 25 tahun lalu. Angkringan yang dijaga bersama adiknya ini baru sekitar setahun kurang dibuka, jiwa wirausahanya memang sudah muncul sejak SMA.
Awalnya selepas lulus dari UNHASY (Universitas Hasyim Asy’ari), dia bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan otomotif di Jombang. Karena ingin fokus wirausaha dia nekat membuka angkringan di kawasan kuliner sepanjang makam Parimono.
Gadis lulusan Program Manajemen Fakultas Ekonomi UNHASY ini menceritakan suka duka sebagai pedagang angkringan, mulai digodai pelanggan hingga dimintai no WhatsApp, kalau sukanya dia mengatakan bahwa sehari rata-rata bisa mendapatkan omset hingga Rp 700.000 dengan keuntungan bersih sekitar Rp 350.000, dan jika sepi omset sekitar Rp 300.000 dengan keuntungan bersih Rp 150.000 bahkan kalau weekend omset bisa mencapai Rp 1.000.000 untuk satu gerobak. Hingga kini dia sudah memiliki tiga gerobak angkringan.
Gadis asal Dusun Nglaban Bendet Diwek ini merupakan anak sulung dari 5 bersaudara, dia juga bercerita bahwa tahun ini adalah tahun kesedihan baginya, karena di tahun ini adiknya, neneknya hingga karyawan angkringannya meninggal dunia.














