Standar Higienitas Diabaikan, Kades Waluya Desak Kepala Dapur MBG Cikeris 2 Dicopot

KARAWANG — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dusun Cikeris 2, Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, tengah menuai polemik serius. Pengelolaan dapur MBG di wilayah tersebut diduga kuat mengabaikan standar kebersihan (sanitasi) dan menutup diri dari koordinasi dengan pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Waluya, Mulyana, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap oknum pengelola yang dinilai tidak profesional dalam menjalankan amanat program nasional tersebut.

Cuci Bahan Makanan di Rumah Warga

Kekecewaan Kades Mulyana memuncak saat mendapati aktivitas pencucian bahan makanan, khususnya ikan lele, justru dilakukan di rumah warga, bukan di fasilitas dapur resmi yang telah disediakan. Kondisi ini dinilai sangat berisiko terhadap higienitas makanan yang akan dikonsumsi oleh penerima manfaat.

“Ini sangat memprihatinkan. Dapur MBG sudah ada, tapi mencuci bahan makanan malah di rumah warga. Ini tidak pantas dan tidak higienis,” tegas Mulyana saat ditemui di kediamannya, Senin (06/04/2026).

Meskipun pengelola beralasan adanya keterbatasan sumber air bersih, Mulyana menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk mengabaikan standar operasional prosedur (SOP) kesehatan.

Pengelola Dinilai Tidak Kooperatif

Pemerintah Desa Waluya mengaku telah berulang kali mencoba menjembatani masalah ini melalui forum resmi yang melibatkan Ketua BPD hingga Karang Taruna. Namun, upaya pembinaan dan solusi yang ditawarkan dikabarkan tidak mendapat respon positif dari Kepala Dapur MBG Cikeris 2.

“Sudah kami bahas bersama, sudah kami beri solusi, tapi tetap tidak diindahkan. Bahkan terkesan menolak masukan dari desa,” tambah Mulyana.

Desakan Penggantian Kepala Dapur

Akibat sikap pengelola yang dinilai keras kepala dan tidak mau diatur, pihak desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) secara tegas meminta agar Kepala Dapur MBG Cikeris 2 segera diganti.

Ketua BPD Desa Waluya, Nadi Supendi, menilai ketidakterbukaan pengelola dapat merusak kredibilitas program mulia pemerintah pusat di mata masyarakat. “Kami mendukung penuh program MBG. Tapi kalau pengelolanya tidak mau menerima masukan dan mengabaikan standar kesehatan, lebih baik diganti demi kebaikan bersama,” tegas Nadi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur MBG Cikeris 2 belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pelanggaran standar higienitas dan kurangnya koordinasi tersebut. Kasus ini menjadi sorotan publik Karawang, mengingat Program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi jangka panjang untuk kualitas gizi generasi mendatang yang tidak boleh tercoreng oleh kelalaian manajerial di tingkat lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *