Yayasan Gang Sebelah bersama Sualoka.Hub dan Lokalisier mengadakan acara perilisan perpustakaan dan toko kecil Lokalisier di Kafe Sualoka.Hub di Kampung Kemasan, Sabtu (16/11).
Ada empat acara yang dimulai dari sore hingga malam, mulai dari tur jalan kaki ke Kota Tua, tukar pikir Komunitas Literasi Gresik Book Party, pembacaan cerpen tinutur hingga diskusi peran komunitas seni sebagai gerakan kebudayaan.
Nandur Mundur sendiri adalah sebuah konsep yang disadari sebagai titik mula untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini adalah membuka perpustakaan dan toko kecil bernama Lokalisier yang mengaktivasi bangunan tua berusia lebih dari 120 tahun di Kampung Legendaris Kemasan.
Peluncuran ini ditandai dengan beberapa program literasi, salah satunya diskusi publik bersama seorang seniman teater bernama Achmad Zainuri.
Melalui buku berjudul “Panggung Senyap Bengkel Muda Surabaya” yang ditulisnya, dan dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan yayasan Gang Sebelah sejak sore, Cak Nuri (biasa beliau dipanggil) sangat mengapresiasinya.
“Inilah momen kalian menjadi diri kalian sendiri. Menentukan apa yang baik buat kalian tanpa intervensi dari manapun. Sama halnya ketika proses berteater untuk menyelami tokoh dan menjadikannya bagian yang menyatu dalam diri kita,” ujar seniman yang pernah berproses kesenian dengan para PSK dan napi binaan ini bercerita tentang proses berkeseniannya.
Acara Tandur Mundur ini sendiri untuk memantik kesadaran kembali perihal peran komunitas kesenian sebagai gerakan kebudayaan.
“Sualoka sendiri bisa jadi tempat untuk semua kegiatan kebudayaan itu. Monggo Komunitas Gresik Book Party atau komunitas lainnya untuk memanfaatkan secara maksimal fasilitas ini,” tandas Irfan Akbar salah satu pengelola Sualoka.Hub.













