Menelusuri Asal-Usul Makam Ki Ageng Balak: Destinasi Wisata Religi “Penolak Bala” di Sukoharjo

SUKOHARJO — Kabupaten Sukoharjo tidak hanya dikenal dengan sentra jamunya, tetapi juga menyimpan kekayaan cagar budaya dan wisata religi yang sarat sejarah. Salah satunya adalah Makam Ki Ageng Balak yang terletak di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari.

Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari Alun-Alun Sukoharjo, makam ini menjadi magnet bagi peziarah dari berbagai penjuru tanah air, terutama bagi mereka yang mencari ketenangan batin dan keberkahan.

Sejarah Pelarian Sang Pangeran Majapahit

Sosok Ki Ageng Balak diyakini sebagai Raden Sujono, putra dari Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Menurut penuturan juru kunci makam, Mbah Sumarno (83), Raden Sujono meninggalkan istana akibat perselisihan pendapat dengan sang ayah, lalu mengembara hingga sampai di hutan belantara yang kini menjadi wilayah Mertan.

Identitas aslinya terungkap saat ia bertemu dengan Mbah Kerto Bandhem, warga pertama yang mendiami wilayah tersebut. Kala itu, Raden Sujono berpesan untuk dirawat dan berjanji akan membantu masyarakat yang mengalami kesusahan.

“Beliau mengganti namanya menjadi Ki Ageng Balak, yang secara filosofis berarti ‘menolak bala’ atau menjauhkan masyarakat dari kesulitan dan musibah,” ujar Mbah Sumarno kepada media, Senin (16/2/2026).

Ritual Malam Jumat Kliwon dan Bulan Suro

Suasana mistis dengan aroma wangi dupa menyambut setiap pengunjung yang datang. Kompleks makam ini akan mencapai puncak keramaian pada malam Jumat Kliwon dan sepanjang bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Selain berziarah dan berdoa di depan pusara, banyak pengunjung yang melakukan ritual kungkum (berendam) di sungai yang berada dalam kompleks makam. Para peziarah datang dari berbagai kalangan—mulai dari pedagang yang ingin usahanya lancar, pengusaha, hingga pejabat yang tengah menghadapi persoalan politik.

Bukan Tempat Pesugihan: Sarana Berdoa kepada Sang Pencipta

Meski kental dengan nuansa ritual, Mbah Sumarno menegaskan bahwa Makam Ki Ageng Balak bukanlah tempat untuk mencari pesugihan. Para peziarah biasanya membawa sesaji simbolis berupa pisang raja, kelapa, gula Jawa, teh, dan kinang sebagai bagian dari tradisi penghormatan.

“Tidak ada persyaratan khusus yang aneh-aneh. Secara hakikat, peziarah tetap meminta kepada Allah SWT. Berdoa di sini hanyalah sarana atau wasilah untuk memohon keberkahan,” tegas sang juru kunci.

Keberadaan Makam Ki Ageng Balak kini tidak hanya menjadi warisan sejarah Majapahit di tanah Sukoharjo, tetapi juga menjadi pilar wisata religi yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar melalui kunjungan wisatawan religi yang tak pernah sepi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *