Sape’ dan Tato Iban Jadi Primadona Festival Budaya Perbatasan Badau, Bahas Peluang ke UNESCO

BADAU, KAPUAS HULU – Festival Kebudayaan Indonesia di Perbatasan Badau RI–Malaysia 2026 menghadirkan gelar wicara budaya yang mengangkat kekayaan tradisi masyarakat Dayak Iban, khususnya seni musik Sape’ dan budaya tato Iban.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 21 September 2026, tersebut mempertemukan akademisi, seniman, budayawan, pelaku seni, serta perwakilan pemerintah dari Indonesia dan Malaysia. Gelar wicara ini menjadi ruang untuk membahas keberlanjutan, pengembangan, serta upaya memperkenalkan budaya lokal ke tingkat internasional.

Perkenalkan Sape’ ke UNESCO

Turut hadir perwakilan Kementerian Kebudayaan, Dr. Louis Ringah Kanyan, Dekan Fakultas Seni Gunaan dan Kreatif Universiti Malaysia Sarawak, Klaudius Kudi dari Sungai Utik, serta Drs. Dinata William, M.Si. dari Lanjak.

Sejumlah narasumber juga hadir dalam gelar wicara tersebut, di antaranya Undri, S.S., M.Si., Ishak Kurniawan, seniman Sape’ asal Kalimantan Tengah, serta Ferdinandus Lah (Fery Sape).

Pembahasan utama diarahkan pada rencana memperkenalkan dan mendorong pengakuan Sape’ sebagai warisan budaya Indonesia di tingkat internasional, termasuk melalui mekanisme UNESCO. Dalam diskusi, peserta membicarakan berbagai tahapan yang perlu dipersiapkan, mulai dari dokumentasi, penguatan kajian, pelestarian, keterlibatan komunitas pemilik tradisi, hingga peran generasi muda.

Tato Iban Juga Disorot

Selain Sape’, gelar wicara juga mengangkat keberadaan seni tato tradisional Iban sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Dayak Iban.

Kegiatan tersebut menghadirkan seniman tato Iban asal Sungai Utik, yakni Verdinandus Muling dan Agustinus Apat, serta seniman dari Panggau Tattoo Studio dan Rata Tatuk.

Tidak hanya melalui diskusi, masyarakat dan pengunjung festival juga dapat melihat pameran karya foto tato Iban yang ditampilkan oleh Alberto D. Prawira. Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan visual dan nilai budaya yang melekat dalam tradisi tato Iban.

Peran Generasi Muda Jadi Perhatian

Dalam diskusi, pentingnya keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian utama. Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya, sekaligus memperkenalkannya melalui berbagai media dan perkembangan teknologi.

Sape’ dan tato Iban tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sejarah, identitas, pengetahuan tradisional, serta kehidupan sosial masyarakat yang mewarisinya.

Melalui Festival Kebudayaan Indonesia di Perbatasan Badau RI–Malaysia 2026, budaya yang hidup di kawasan perbatasan diharapkan semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Gelar wicara ini sekaligus menjadi ruang pertemuan lintas negara antara pelaku budaya Indonesia dan Malaysia untuk saling bertukar pengetahuan mengenai pelestarian budaya, khususnya warisan budaya masyarakat Iban yang hidup di kawasan perbatasan.

Dari perbatasan Badau, budaya tidak hanya menjadi identitas masa lalu, tetapi juga menjadi bagian penting dari masa depan generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *