Rumah Kepsek di Klaten Disulap Jadi Sekolah Dadakan, 60 Siswa Belajar Lesehan

KLATEN – Semangat belajar 60 siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Wiro, Bayat, Kabupaten Klaten patut diacungi jempol. Meski gedung sekolah tengah direvitalisasi, kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan efektif di rumah kepala sekolah.

KBM darurat ini berlangsung sejak 18 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Selama masa revitalisasi, rumah kepala sekolah disulap menjadi sekolah sementara dengan 6 ruangan kelas.

Berawal dari Izin ke Gedung Desa

Sutarto, Kepala Sekolah, mengungkapkan awalnya pihak sekolah telah mengajukan izin penggunaan gedung desa. Namun karena gedung desa saat itu masih terpakai, ia bersama dewan guru berinisiatif menggunakan rumah pribadi.

“Sebetulnya pertama izinnya ke gedung desa, karena gedung masih dipakai, untuk sementara saya dan teman-teman mengajukan ke rumah saya dulu,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (22/9/2026).

Keputusan tersebut justru mendapat dukungan penuh dari orang tua siswa dan paguyuban. Alasan utamanya adalah faktor keselamatan dan kenyamanan anak. Bahkan ketika akan dipindahkan ke gedung desa, siswa justru menolak.

“Akhirnya sampai sekarang mau pindah ke gedung, malah orang tua dan paguyuban itu mempertimbangkan keselamatan anak dan kenyamanan anak. Untuk anak-anak tidak keberatan, justru diajak ke gedung itu anak-anak tidak mau,” jelasnya.

Belajar Lesehan, Siswa Justru Bahagia

Ia memastikan fasilitas di rumahnya mencukupi untuk 60 siswa. Tersedia 6 ruangan untuk kelas dan 2 toilet untuk siswa. Saat jam istirahat, tenaga pendidik beristirahat di ruang tamu.

Untuk meja belajar, siswa membawa meja kecil masing-masing dan belajar secara lesehan. Hal tersebut dilakukan karena jika menggunakan meja besar tidak akan muat.

Soal kehadiran, tidak ada penurunan sama sekali. Pembelajaran tetap berjalan sesuai jadwal normal seperti di sekolah. Siswa pun tidak protes dengan sistem lesehan, justru terlihat bahagia.

“Jam pembelajaran seperti biasa, efektif. Pembelajaran tetap efektif seperti jadwal biasa di sekolah, tidak ada penurunan kehadiran. Duduk di lesehan tidak ada protes dari anak-anak justru malah seperti bahagia,” tambahnya.

Kendala Hanya Halaman Bermain

Adapun kendala yang dirasakan hanya soal halaman bermain yang tidak seluas di sekolah.

“Ya kalau untuk pembelajaran mungkin ya tidak bisa seperti di sekolah, halaman tidak seluas di sekolah, di sini halamannya kurang, untuk kegiatan bermain ya seadanya. Kalau untuk kegiatan belajar mengajarnya insyaallah aman,” pungkasnya.

Dengan adanya revitalisasi ini, diharapkan pada Desember nanti siswa dapat kembali belajar di gedung baru yang lebih layak dan aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *