JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membuat pernyataan mengejutkan terkait perbedaan antara praktik gratifikasi dan pemberian hadiah yang didasari ketulusan. Hal ini disampaikan Menag saat menghadiri Peringatan Syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di Paroki Katedral Jakarta, Sabtu (09/05/2026).
Di hadapan para tokoh lintas agama, Nasaruddin meluruskan persepsi publik mengenai apresiasi yang sering diterima oleh tokoh masyarakat atau pejabat.
Bukan Gratifikasi? Ini Syarat Hadiah Menurut Menag
Nasaruddin menggarisbawahi bahwa ada ruang bagi ketulusan manusiawi yang tidak boleh langsung dicap sebagai pelanggaran hukum. Ia menekankan bahwa niat pemberi menjadi faktor pembeda yang krusial.
“Kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih,” ujar Nasaruddin. Pernyataan ini sontak menjadi sorotan karena isu gratifikasi tengah menjadi perhatian ketat bagi para pejabat publik.
Bikin Haru! Kisah Kijang dan Pesan “Kurikulum Cinta”
Tak hanya bicara soal hukum, Menag juga membagikan kisah penuh makna tentang seekor kijang yang dilepaskan untuk menghidupi anak-anaknya sebagai simbol kasih sayang terhadap semesta.
Momen ini menjadi dasar bagi Menag untuk mengusulkan gebrakan baru di dunia pendidikan Indonesia, yakni penggabungan nilai agama dan lingkungan.
“Saya mengimbau lembaga pendidikan mana pun juga, mari kita kembangkan ekoteologi dan kurikulum cinta,” tegasnya. Ia berharap anak-anak bangsa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati tinggi terhadap sesama makhluk dan alam.
Strategi Indonesia Pimpin Dunia Internasional
Menag optimis bahwa dengan pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang ini, Indonesia bisa menjadi contoh di tingkat global dalam menyelesaikan konflik.
“Mari kita menjadi contoh dalam dunia internasional bahwa cinta adalah jalan penyelesaian yang terbaik di atas semua problem yang ada,” pungkas Nasaruddin Umar. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai laboratorium kerukunan umat beragama di mata dunia.












