PANCUR BATU — Keresahan warga Kampung Tengah, Kecamatan Pancur Batu, kini berada di titik puncak. Pasca-lolos dari penyisiran petugas pada Senin (2/3) lalu, dua terduga bandar narkoba berinisial O alias Ngat dan Sa alias Leh justru semakin terang-terangan menjalankan bisnis gelapnya dengan modus yang kian “licin” bak belut.
Alih-alih tiarap, jaringan ini justru mengubah taktik untuk mengecoh endusan polisi. Berdasarkan laporan masyarakat, para pelaku kini tidak lagi menetap di satu titik, melainkan menerapkan sistem mobile atau berpindah-pindah lapak guna menghindari sergapan petugas.
Modus Baru: Dari Kedai Tuak Hingga Celah Jendela
Strategi “kucing-kucingan” ini dilakukan secara masif untuk memastikan peredaran barang haram tetap berjalan. Warga mencatat beberapa titik rawan baru yang kini menjadi lokasi favorit transaksi:
-
Kedai Tuak Pokok Manggis: Lokasi ini diduga menjadi titik pantauan sekaligus tempat pertemuan kilat antara pengedar dan pembeli.
-
Area Dekat Masjid: Hal yang paling memicu amarah publik adalah keberanian pelaku melakukan transaksi di sekitar rumah ibadah, menodai kekhusyukan masyarakat di tengah bulan suci Ramadan.
-
Transaksi Balik Jendela: Untuk menghindari pantauan di area terbuka, pelaku kini melayani pembeli dari dalam rumah melalui celah jendela secara sembunyi-sembunyi dan sangat cepat.
“Mereka ini makin tidak ada otaknya. Masa di dekat masjid pun berani transaksi? Kadang di kedai tuak, kadang dari dalam rumah lewat jendela saja. Kalau aparat cuma datang pakai seragam, sampai kapan pun mereka tidak akan tertangkap karena pasti kabur duluan,” keluh salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Minggu (8/3/2026).
Warga Desak Taktik Jitu Polsek Pancur Batu
Keberanian para pelaku yang memanfaatkan celah pemukiman membuat warga pesimis jika aparat hanya mengandalkan patroli terbuka. Masyarakat mendesak Kapolsek Pancur Batu, Kompol Junaidi S.H., dan Kanit Reskrim IPTU Rudi Salam Tarigan untuk segera mengubah strategi.
Penggunaan tim intelijen berpakaian preman dinilai jauh lebih efektif untuk melakukan aksi tangkap tangan di titik-titik transaksi tersebut. Publik kini menanti langkah nyata: mampukah polisi membekuk “mafia” Kampung Tengah ini, ataukah mereka tetap bebas merusak generasi muda?
Tembok Bisu: Muspika dan Aparat Desa Bungkam
Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh awak media untuk menjaga keberimbangan informasi (cover both sides). Namun, hingga berita ini diterbitkan, beberapa pihak terkait justru menunjukkan sikap bungkam.
Kapten Arm Eddy Hutabarat, SH, MH (Danramil 0201-14/PB) dan Ebenezer Pelawi (Kepala Desa Kampung Tengah) belum memberikan balasan atas konfirmasi wartawan. Setali tiga uang, Kapolsek Pancur Batu Kompol Junaidi, S.H juga belum memberikan tanggapan resmi.
Sikap bungkamnya jajaran Muspika dan perangkat desa ini sangat disayangkan oleh masyarakat. Warga menanti sinergi nyata antara Kepolisian, Koramil, dan Pemerintah Desa untuk membersihkan Kampung Tengah dari pengaruh narkoba yang kian merajalela.












