SURABAYA — Suasana haru menyelimuti Gedung Grha Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada prosesi wisuda Sabtu (18/04/2026). Kementerian Transmigrasi memberikan penghormatan khusus kepada almarhum Abdul Rohid, anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025, yang wafat setelah mendedikasikan dirinya bagi pembangunan kawasan transmigrasi di Sulawesi Tengah.
Rohid bukanlah wisudawan biasa. Ia adalah pemuda yang memilih menunda kelulusannya pada September 2025 demi menjawab panggilan pengabdian negara melalui program Transmigrasi Patriot.
Pilihan Hidup di Garis Depan Pengabdian
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, dalam sambutannya menyebut keputusan Rohid sebagai refleksi karakter generasi muda unggul. Rohid terjun langsung ke Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Kabupaten Poso, wilayah yang kini bertransformasi menjadi sentra produksi durian nasional berorientasi ekspor.
“Beliau seharusnya wisuda tahun lalu, namun ia memilih menunda itu semua demi bergabung dalam Transmigrasi Patriot. Ia memilih turun ke lapangan dan mengabdi. Itu adalah sebuah keputusan hidup yang luar biasa,” ujar Mentrans Iftitah dengan nada bergetar.
Jejak Langkah di Sentra Durian Dunia
Kontribusi Rohid di lapangan menjadi bagian dari kesuksesan ekonomi kawasan. Kawasan Bahari Tomini Raya dan Parigi Moutong kini menyumbang sekitar 80% produksi durian di wilayah tersebut dengan nilai ekonomi mencapai ratusan miliar hingga satu triliun rupiah per tahun.
“Di balik produk yang menembus pasar dunia hari ini, ada jejak langkah almarhum. Keberhasilan ekonomi kawasan ini adalah buah dari kerja kolektif para patriot seperti Rohid,” tambahnya.
Wasiat Tersembunyi dan Beasiswa Pendidikan
Di balik sosoknya yang tangguh, Rohid dikenal sangat bersahaja. Ia memiliki cita-cita mulia untuk memberangkatkan orang tuanya umroh dan memastikan adiknya, Aprilia Nur Intan Saputri, meraih gelar sarjana.
Sebagai bentuk apresiasi atas jasa almarhum, Kementerian Transmigrasi berkomitmen memberikan bantuan beasiswa kepada adik almarhum hingga lulus SMA. Sementara itu, pihak ITS menyatakan komitmennya untuk menjembatani pendidikan Aprilia hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Warisan Inovasi: Air Purifier untuk Masyarakat
Selain jasa pengabdian, Rohid meninggalkan warisan intelektual berupa inovasi alat pemurni udara (air purifier). Karya tersebut secara resmi diserahkan kepada ITS untuk dikembangkan lebih lanjut.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyatakan kebanggaannya atas karya tersebut. “Kami akan melihat dan mengembangkan inovasi air purifier saudara Abdul Rohid agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ungkap Bambang.
Patriot Bagi Bangsanya
Peristiwa ini menegaskan bahwa program Transmigrasi Patriot bukan sekadar mobilisasi tenaga muda, melainkan kawah candradimuka bagi pembentukan SDM yang siap membangun kedaulatan ekonomi wilayah.
“Almarhum Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studinya, tetapi ia telah menyelesaikan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsanya. Selamat jalan, Rohid,” tutup Mentrans mengakhiri sambutan penuh haru tersebut.












