BEKASI — Persoalan sampah plastik rumah tangga yang kerap menjadi beban lingkungan kini menemukan solusi inovatif di tangan pemuda Desa Karangreja. Amir, seorang pegiat lingkungan, berkolaborasi dengan organisasi XTC Sexyroad Pebayuran berhasil menyulap sampah plastik tak bernilai menjadi bahan bakar alternatif berupa solar dan bensin, Minggu (19/04/2026).
Gerakan yang dimulai dari keprihatinan atas kondisi jalanan kampung yang dipenuhi sampah ini, kini bertransformasi menjadi program rutin setiap hari libur.
Teknologi Pirolisis: Mengembalikan Plastik ke Bahan Dasar
Sejak tahun 2024, Amir bersama rekan-rekannya mengembangkan mesin pemanas yang disebut mesin pirolisis. Teknologi ini bekerja dengan konsep dekomposisi kimia melalui proses pemanasan dalam tungku kedap udara bersuhu tinggi, guna mengembalikan material plastik ke bentuk asalnya, yakni minyak bumi.
“Metodenya adalah destilasi kering. Hasil akhirnya berupa solar, bensin, gas propilin, serta residu karbon hitam. Ini murni dekomposisi, bukan dibakar,” jelas Amir. Saat ini, tim telah memiliki dua prototipe mesin pirolisis yang mampu mengolah 1 kilogram plastik menjadi 1 liter bahan bakar.
Proses Produksi yang Ramah Lingkungan
Proses pengolahan dimulai dengan memasukkan plastik ke dalam tabung reaktor yang dipanaskan hingga suhu 250°C. Uap hasil pemanasan kemudian mengalir melalui pipa menuju proses kondensasi (perubahan gas menjadi cair) yang dibantu sistem pendingin air bersirkulasi.
Hasil dari proses ini diklaim sangat efisien dan ramah lingkungan:
-
80% – 90% menghasilkan Solar.
-
10% menghasilkan Bensin (gas masa jenis ringan).
-
Residu hanya berkisar 5-8% berupa karbon hitam dan gas propilin yang telah difilter.
Pemanfaatan untuk Sektor Pertanian dan Operasional
Hasil olahan bahan bakar ini tidak diperjualbelikan, melainkan digunakan untuk kepentingan sosial dan operasional tim. Solar hasil pirolisis telah diuji coba pada alat-alat pertanian milik warga sekitar, mesin genset, hingga sepeda motor operasional pengangkut sampah.
“Kami berikan secara cuma-cuma kepada petani di sekitar sini. Untuk bensin dan solar lainnya, kami gunakan sendiri untuk mendukung mobilitas anak-anak lokal yang keliling memungut sampah,” tambah Amir.
Edukasi Pemilahan Sampah
Meski inovatif, Amir menekankan pentingnya pemilahan. Timnya hanya mengolah jenis plastik tertentu. Plastik kelas 1 (PET) tidak diolah karena masih memiliki nilai jual untuk didaur ulang, sementara kelas 3 (PVC) dihindari karena kandungan kloridanya yang tinggi dan berisiko merusak lingkungan.
Melalui gerakan ini, Amir berharap instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup serta aparatur desa setempat dapat memberikan dukungan lebih masif. Target utamanya adalah membangun kesadaran kolektif untuk memilah sampah langsung dari tingkat rumah tangga guna menciptakan ekosistem lingkungan yang lebih bersih dan berdaya guna.












