JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan penjelasan resmi terkait polemik pemberian insentif sebesar Rp6 juta per hari bagi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini disebut sebagai strategi percepatan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dadan menegaskan bahwa dana tersebut bukan sekadar tunjangan, melainkan bentuk apresiasi negara atas kontribusi pihak swasta atau mitra dalam mempercepat ketersediaan infrastruktur gizi di berbagai daerah.
Efisiensi Anggaran dan Waktu Jadi Alasan Utama
Menurut Dadan, skema kemitraan dengan memberikan insentif jauh lebih menguntungkan negara jika dibandingkan dengan skema pembangunan fasilitas secara mandiri oleh pemerintah. Membangun ribuan dapur SPPG dari nol oleh negara akan memakan biaya investasi awal dan birokrasi waktu yang sangat besar.
“Biaya yang diberikan jauh lebih efisien bila BGN membangun sendiri semua fasilitas dan infrastrukturnya,” jelas Dadan, Rabu (18/2/2026).
Ia menekankan bahwa faktor waktu tidak dapat diputar kembali. Oleh karena itu, percepatan pembangunan fasilitas menjadi hal krusial agar program Makan Bergizi Gratis dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam waktu singkat.
Investasi yang Kembali Lebih Cepat
Negara memberikan apresiasi ini agar investasi yang dikeluarkan oleh mitra untuk membangun dapur dan sarana pendukung dapat segera tertutupi (return on investment). Dengan kepastian insentif ini, mitra diharapkan mampu menjaga kualitas layanan dan operasional secara berkelanjutan.
“Waktu adalah salah satu hal yang berjalan searah. Atas dasar pertimbangan mendapat keuntungan dari percepatan, negara memberikan apresiasi agar investasi yang dilakukan segera dapat kembali,” tambahnya.
Strategi Menuju Indonesia Emas 2045
Program MBG merupakan salah satu pilar strategis pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul. Kesiapan dapur SPPG di setiap wilayah menjadi kunci keberhasilan pemenuhan gizi anak sekolah dan kelompok rentan lainnya.
Melalui skema insentif Rp6 juta per hari ini, pemerintah berharap ekosistem ekonomi lokal di sekitar SPPG juga ikut bertumbuh, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga distribusi bahan pangan dari petani lokal ke dapur-dapur mitra.
Meskipun menjadi sorotan publik terkait besaran angkanya, BGN optimistis bahwa hasil jangka panjang dari percepatan pemenuhan gizi ini akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar bagi Indonesia di masa depan.












