SRAGEN — Mahasiswa Program Studi Desain Mode Batik FSRD ISI Surakarta menorehkan prestasi melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Proyek Kemanusiaan. Mereka berhasil menciptakan motif batik baru bertajuk “Motif Batik Parang Gading Sragen” yang dirancang khusus sebagai bahan ajar bagi siswa SLB Negeri Sragen sekaligus menjadi produk fashion hijab kekinian.
Karya ini bukan sekadar inovasi visual, melainkan simbol inklusivitas yang menggabungkan sejarah lokal dengan pesan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.
Filosofi Gading Gajah Sangiran dan Bahasa Isyarat
Motif ini memiliki kedalaman makna yang unik. Visual utamanya mengambil inspirasi dari fosil gading gajah purba khas Sangiran yang dipadukan dengan elemen bahasa isyarat vokal (A, I, U, E, O).
“Kesetaraan di SLB Negeri Sragen bukan soal akses fisik saja, tapi juga kesempatan untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi sosial. Motif ini menyimpan cerita dan sejarah besar Sragen,” ungkap Danang Priyanto, S.Sn., M.Sn., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Bahan Ajar Inklusif dan Produk Hijab Modis
Satu hal yang menonjol dari motif ini adalah desain geometrisnya yang telah disederhanakan. Hal ini bertujuan agar para siswa dengan kebutuhan khusus, baik tunarungu maupun tunagrahita, dapat lebih mudah mengikuti proses menggambar atau teknik “mengeblat” (menjiplak) motif.
Tak berhenti di atas kertas, motif ini juga diaplikasikan pada produk hijab menggunakan teknik canting malam dan pewarnaan naptol. Hasilnya adalah produk fashion yang modis namun tetap kental dengan jati diri tradisi.
Gelar Karya: Siswi SLB Jadi Model Catwalk
Sebagai puncak acara MBKM, digelar sebuah panggung apresiasi di Pendopo SLB Negeri Sragen. Momen paling emosional terjadi saat siswi-siswi SLB Negeri Sragen tampil percaya diri di atas catwalk sebagai model fashion show, membawakan koleksi hijab hasil karya mahasiswa.
Guru jurusan Batik SLB Negeri Sragen, Suhanto, S.Pd., menyatakan bahwa pecahan motif ini akan segera diintegrasikan ke dalam kurikulum jurusan batik di sekolah tersebut. “Ini memudahkan anak-anak dalam belajar menggambar dan memberikan mereka gambaran nyata bahwa karya mereka memiliki nilai jual di industri kreatif,” jelasnya.
Melalui program ini, mahasiswa ISI Surakarta berhasil membuktikan bahwa pendidikan tinggi dapat memberikan dampak langsung (proyek kemanusiaan) yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.














