Hasil Investigasi PBB: Prajurit TNI di Lebanon Gugur Akibat Tembakan Tank Merkava Israel

NEW YORK — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengonfirmasi penyebab gugurnya prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Lebanon Selatan. Berdasarkan hasil investigasi, Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dinyatakan tewas akibat serangan langsung dari tank militer Israel.

Insiden memilukan ini merupakan bagian dari rangkaian serangan mematikan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian dalam beberapa pekan terakhir, yang total telah merenggut nyawa tiga prajurit TNI.

Analisis Proyektil Kaliber 122mm

Juru Bicara PBB, Stéphane Dujarric, mengungkapkan bahwa insiden yang menimpa Farizal terjadi pada 29 Maret 2026 di dekat wilayah Adchit Al Qusayr. Analisis mendalam terhadap lokasi kejadian dan serpihan proyektil menunjukkan bukti keterlibatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Israel.

“Berdasarkan analisis serpihan di lokasi, proyektil tersebut merupakan peluru kaliber 122 milimeter yang ditembakkan dari senjata utama tank Merkava milik Israel Defense Forces (IDF),” tegas Dujarric dalam konferensi pers di New York, Rabu (08/04/2026).

Duka Mendalam: Tiga Prajurit TNI Gugur di Medan Tugas

Selain insiden tembakan tank, PBB juga membeberkan detail kejadian tragis lainnya yang merenggut nyawa dua personel TNI pada 30 Maret 2026 di wilayah Bani Hayyan:

  1. Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar

  2. Sertu Muhammad Nur

Keduanya gugur setelah kendaraan operasional yang mereka tumpangi hancur akibat ledakan ranjau darat. Pihak PBB menduga ranjau tersebut dipasang oleh kelompok Hizbullah. Hingga saat ini, investigasi lanjutan masih dilakukan untuk memastikan kronologi ledakan tersebut.

Delapan Personel Terluka dalam Serangkaian Serangan

Ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel juga menyebabkan delapan prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Insiden terbaru terjadi pada 3 April 2026, menambah daftar panjang risiko yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di wilayah konflik tersebut.

PBB mengecam keras segala bentuk serangan terhadap personel penjaga perdamaian dan mengingatkan semua pihak yang bertikai untuk menghormati hukum internasional. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah melayangkan protes keras dan mendesak akuntabilitas penuh atas gugurnya para ksatria bangsa di medan tugas internasional tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *