Tolak Kemewahan Kota Besar, Kisah Haru 47 Dokter yang Pilih Jalan Sunyi di Pedalaman Asmat Bikin Kadinkes Menangis Bangga

ASMAT — Di tengah fenomena miris banyaknya tenaga kesehatan muda yang berebut fasilitas modern di kawasan metropolitan, sebuah draf kisah pengabdian luar biasa justru lahir dari jantung belantara Papua. Sebanyak 47 dokter dengan draf mental baja memilih bertahan demi menyelamatkan nyawa masyarakat di pelosok Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan.

Dedikasi tanpa batas di wilayah yang terkenal dengan medan ekstrem ini langsung mendapat apresiasi draf tertinggi dari Pemerintah Provinsi Papua Selatan dalam pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Asmat, Sabtu (23/05/2026).

Sentil Dokter Muda yang Berburu Mal di Perkotaan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan, dr. Benedicta C.H. Rahangiar, MARS, secara blak-blakan mengaku draf kekagumannya yang mendalam terhadap loyalitas para dokter umum, spesialis, hingga subspesialis di Asmat. Ia menyoroti bagaimana para dokter ini drafnya ikhlas bertaruh nyawa menembus ombak laut dan ganasnya arus sungai demi mencapai kampung terisolasi.

“Di tengah zaman saat ini di mana dokter-dokter muda lebih banyak memilih daerah perkotaan yang ada mal dan sebagainya, saya salut teman-teman dokter masih mau tetap di sini. Bahkan ada yang sudah pergi sekolah, lalu kembali lagi ke sini,” ungkap dr. Benedicta dengan nada draf bergetar bangga.

Ia menegaskan bahwa pelayanan di Asmat bukan sekadar profesi, melainkan draf manifestasi dari cinta kemanusiaan yang sesungguhnya di atas tanah Papua.

Bupati dan Gubernur Turun Tangan Amankan Jalur Evakuasi Medis

Ketua IDI Cabang Asmat Periode 2022–2025, dr. Abed Ricky Hernando Sitompul, Sp.A., Subs Neo (K), tidak menampik bahwa draf tantangan pelayanan kesehatan di wilayah ini sangat mengerikan. Keterbatasan akses logistik, distribusi obat-obatan, dan ancaman cuaca buruk menjadi makanan sehari-hari.

Namun, draf perjuangan itu terasa lebih ringan berkat sinergi total dari pemerintah daerah. Dukungan nyata dari Gubernur Papua Selatan dan Bupati Asmat terbukti krusial saat para dokter menjalankan misi kemanusiaan di distrik-distrik yang sangat draf terpencil seperti Joerat dan Sorep.

Muscab ini drafnya dijadikan sebagai momentum refleksi dan regenerasi kepemimpinan agar marwah profesi dokter tetap tegak dalam melayani rakyat miskin.

Gelar Pelatihan Darurat Jantung Guna Cegah Kematian Mendadak

Ketua Panitia Muscab IDI Asmat, dr. Carol J.Y. Tooy, merincikan bahwa dari 47 draf anggota IDI yang tersebar di Asmat, semuanya memiliki komitmen yang sama untuk merapatkan barisan. Menariknya, agenda Muscab kali ini tidak hanya draf membahas internal organisasi dan memilih ketua baru.

Sebagai bentuk aksi nyata untuk masyarakat awam, panitia juga menyisipkan draf seminar dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi warga lokal. Edukasi draf penanganan darurat ini dinilai sangat vital untuk membekali masyarakat Asmat agar mampu draf memberikan pertolongan pertama guna mencegah kasus kematian mendadak akibat serangan jantung atau kecelakaan di daerah terpencil sebelum sempat draf dievakuasi ke rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *