JAKARTA — Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menyiapkan langkah besar untuk menyulap desa-desa di Indonesia menjadi pusat ekspor yang tangguh. Strategi ini diawali dengan rencana mempertebal literasi karantina di tingkat desa melalui kerja sama strategis dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin).
Dalam pertemuan dengan Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, di Ruang Rapat Menteri, Senin (11/05/2026), Mendes Yandri mengungkapkan bahwa 75.266 Kepala Desa akan menjadi sasaran utama penguatan kapasitas ini.
Lindungi Desa, Pertebal Literasi Karantina
Mendes Yandri menyoroti masih minimnya pemahaman perangkat desa mengenai pentingnya aturan karantina. Minimnya literasi ini dinilai berisiko membuat pihak desa tersandung masalah hukum atau teknis saat melakukan lalu lintas komoditas.
“Jumlah Kepala Desa kita sangat besar, mencapai 75.266, namun literasi karantina masih minim. Kami mengajak Barantin melakukan MoU dan PKS untuk mempertebal literasi ini, termasuk melibatkan 34.000 pendamping desa,” ujar Mantan Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Langkah ini juga akan merangkul delapan asosiasi desa, seperti Apdesi Merah Putih, PAPDESI, dan PABPDSI, guna memastikan informasi tersampaikan secara masif hingga ke akar rumput.
Inovasi “Satu Desa Satu Komoditas Ekspor”
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menyambut antusias kolaborasi ini. Ia menilai desa adalah subjek pembangunan yang memiliki potensi sumber daya luar biasa namun sering terkendala standarisasi mutu.
Sebagai solusi konkret, Barantin mengusulkan program Desa Ekspor Berbasis Biosekuriti dan Mutu Terjamin. Beberapa poin unggulan dalam rencana kerja sama ini meliputi:
-
1 Desa 1 Komoditas Ekspor: Fokus pada keunggulan spesifik tiap daerah.
-
Klinik Karantina Desa: Layanan konsultasi teknis bagi petani dan pengusaha desa.
-
BUMDesa Export Hub: Menjadikan BUMDesa sebagai motor penggerak ekspor produk lokal.
-
Digital Traceability Desa: Sistem pelacakan produk berbasis digital untuk standar internasional.
Benteng Pertahanan dari Hama dan Penyakit
Selain mengejar nilai ekonomi, sinergi ini bertujuan membangun “Benteng Pertahanan” melalui sistem biosekuriti. Dengan pemahaman karantina yang lebih baik, desa diharapkan mampu memfilter lalu lintas komoditas sehingga terhindar dari ancaman hama dan penyakit yang dapat merusak ekosistem pertanian lokal.
“Kita harus dorong desa prioritas ekspor untuk memiliki standarisasi dan sertifikasi agar proses ekspor menjadi lebih mudah dan berkelanjutan,” tegas Kadir Karding.
Pertemuan tersebut turut didampingi oleh jajaran pejabat eselon I Kemendes PDT, termasuk Sekjen Taufik Madjid dan para Dirjen, guna memastikan rencana ini segera terealisasi dalam bentuk aksi nyata di lapangan.












