Iran Guncang Pasar Energi: Tanker Hanya Boleh Lintasi Selat Hormuz Jika Bayar Pakai Yuan

TEHERAN — Geopolitik Timur Tengah memasuki fase kritis baru. Pemerintah Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan kebijakan radikal dengan mensyaratkan penggunaan mata uang Yuan China bagi setiap kapal tanker minyak yang ingin melintasi Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia.

Langkah ini diambil Teheran sebagai bagian dari strategi pengaturan ulang arus pelayaran strategis sekaligus upaya sistematis untuk meruntuhkan dominasi Dolar AS dalam perdagangan energi global.

Strategi De-dolarisasi di Jalur Vital

Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi kepada CNN bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap tekanan ekonomi Barat. Dengan mewajibkan Yuan, Iran berupaya memperkuat aliansi ekonomi dengan China, yang dalam beberapa tahun terakhir aktif mendorong “Petroyuan”.

Saat ini, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia dengan statistik yang mencengangkan:

  • 20 Juta Barel Minyak: Volume rata-rata yang melintas setiap hari.

  • 20% Pasokan LNG Dunia: Bergantung sepenuhnya pada jalur air sempit ini.

Dampak Serangan 28 Februari: Harga Minyak Meroket

Ketegangan ini memuncak pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan udara tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai aksi balasan, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026. Akibatnya, pasar energi global terguncang hebat dengan harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022, melampaui rekor yang tercipta saat awal konflik Rusia-Ukraina.

Peringatan PBB dan Krisis Kemanusiaan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan keras bahwa pembatasan pelayaran di Selat Hormuz akan berdampak katastropik bagi operasi kemanusiaan di kawasan tersebut. Suplai bantuan dan kebutuhan energi untuk negara-negara berkembang terancam terhenti total jika kebuntuan diplomatik ini tidak segera diurai.

Meskipun China mendukung penggunaan Yuan, posisi Dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia membuat kebijakan Iran ini menjadi pertaruhan besar yang bisa memicu sanksi lebih berat atau eskalasi militer lebih lanjut di kawasan Teluk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *