JOMBANG — Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah, Dusun Betek Selatan, Desa Betek, Mojoagung, Jombang, mengalami keracunan massal pada Kamis malam (5/3/2026). Sebanyak 31 santri harus mendapatkan perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah setelah mengeluhkan mual, muntah, hingga pingsan usai menyantap menu buka puasa.
Insiden ini menjadi perhatian serius karena salah satu komponen makanan yang disajikan diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kronologi Kejadian: Gejala Muncul Usai Magrib
Peristiwa bermula saat para santri menyantap hidangan berbuka berupa nasi, rawon, dan telur asin sekitar pukul 18.00 WIB. Azza Khoirun Nisa (17), salah satu santriwati, menceritakan bahwa situasi berubah mencekam sesaat setelah makan.
“Banyak yang muntah, kondisinya lemas, bahkan ada beberapa yang sampai pingsan. Dari 34 santri putri, hanya 7 orang yang tidak terkena gejala,” ungkap Azza di lokasi kejadian.
Pengasuh Ponpes, Muhammad Adam, merinci bahwa pihak pondok memasak sendiri nasi dan rawon. Namun, lauk pendamping berupa telur asin diambil dari paket MBG yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Betek sekitar pukul 09.00 WIB.
Respons Cepat dan Evakuasi Medis
Melihat kondisi santri yang terus memburuk, pihak Ponpes berkoordinasi dengan SPPG Betek untuk mengevakuasi para korban menggunakan ambulans ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, yang memantau perkembangan di rumah sakit pada Jumat pagi (6/3/2026), mengonfirmasi bahwa penanganan cepat telah dilakukan. “Saat ini yang masih dirawat di IGD tinggal 7 orang, sisanya alhamdulillah sudah membaik karena respons cepat dari pesantren dan tenaga medis,” terangnya.
Investigasi Sumber Keracunan: Fokus pada Telur Asin
Meskipun kecurigaan mengarah pada telur asin dari program MBG, otoritas terkait masih bersikap hati-hati. Muhammad Adam mencatat bahwa santri yang tidak memakan telur asin cenderung tidak mengalami keracunan, meski ada beberapa santri yang memakan telur tersebut namun tetap dalam kondisi baik.
Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan bahwa timnya telah mengamankan sejumlah sampel untuk diuji secara klinis di Surabaya.
Sampel yang dikirim ke Labkesmas Surabaya:
-
Kuah rawon (masakan pondok).
-
Telur asin (dari SPPG Betek).
-
Muntahan para santri.
-
Contoh air bersih dari lingkungan Ponpes.
“Hasil laboratorium minimal baru bisa diketahui dalam 10 hari kerja. Saat ini, biaya perawatan sementara ditanggung oleh pihak pondok pesantren karena penyebab pastinya—apakah dari makanan pondok atau faktor eksternal—masih belum diputuskan,” pungkas dr. Hexawan.













