Sudah 4 tahun ini enceng gondok mendapatkan perhatian publik. Tanaman ini booming di Danau Tondano Kabupaten Minahasa, bahkan sampai menutup permukaan danau hingga beberapa kilometer.
Berbicara enceng gondok, tanaman ini memang terkenal sebagai tumbuhan yang bisa berkembang biak dengan sangat cepat. Tidak hanya itu, tumbuhan itu juga dikenal sebagai gulma alias tanaman pengganggu atau hama.
Enceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tanaman air yang berasal dari Amerika Selatan. Tumbuhan itu ditemukan pertama kali oleh seorang pakar botani kebangsaan Jerman, Carl Friedrich Phillip von Martinus pada tahun 1824. Kala itu sang ilmuwan menemukannya ketika sedang berekspedisi di Sungai Amazon, Brazil.
Ternyata enceng gondok sengaja didatangkan dari Brazil ke Indonesia untuk melengkapi koleksi Kebun Raya Bogor kala itu. Dari sinilah tanaman itu akhirnya menyebar ke sejumlah perairan di Indonesia.
Seperti yang disebutkan di atas, enceng gondok ini cepat sekali berkembang biak. Tanaman itu bisa berkembang biak dua kali lipat dalam waktu 7-10 hari.
Enceng gondok ini berkembang biak secara vegetatif, yaitu melalui geragih atau stolon. Sekadar informasi, geragih atau stolon merupakan batang yang menjalar ke samping dan setiap ruas batang itu tumbuh tanaman baru.
Enceng gondok menyerap nutrisi di dalam air seperti nitrogen, fosfat, dan potasium. Malahan tanaman ini juga bisa menyerap logam-logam berat seperti Pb, Cr, Cu, Fe, Mn, Zn, dan Hg.
Perairan yang ditumbuhi enceng gondok ini menjadi lingkungan yang buruk bagi ikan. Hewan air akan kekurangan nutrisi dan oksigen karena sudah diserap oleh tanaman tersebut. Selain itu tanaman ini juga bisa mempercepat pendangkalan, menghalangi lalu lintas transportasi air, dan memperbesar penguapan air hingga 3-7 kali lipat.
Meskipun kerap dipandang sebagai gulma, enceng gondok ini ternyata punya beberapa sisi positif, misalnya untuk membersihkan lingkungan dari limbah berbahaya. Enceng gondok bisa menyerap logam berat yang mencemari perairan. Selain itu enceng gondok bisa juga diolah menjadi tali yang digunakan untuk membuat tas.













