Dalam ibadah Minggu (11/8/2024) pukul 09.00 WIB pagi ada kegiatan khusus yang dilaksanakan. Kegiatan tersebut adalah Pelantikan Panitia Pemilihan Penatua dan Diaken Daur 2025 – 2027.
Pelantikan panitia ini dilakukan di tengah-tengah peribadatan, setelah firman yang disampaikan oleh Ibu Pendeta Ridha. Pembentukan panitia yang seluruhnya terdiri dari warga jemaat ini bertujuan untuk melaksanakan pendataan warga yang mempunyai hak pilih dan dipilih sampai tahap penghitungan untuk yang terpilih.

“Panitia dibentuk untuk membantu pendeta dalam memilih rekan sepelayanan di periode berikutnya karena Majelis Penatua dan Diaken periode 2022 – 2024 akan segera berakhir masa tugasnya,” terang Pendeta Ridha.
Di GKJW jabatan menjadi Penatua dan Diaken adalah termasuk dalam jabatan khusus dalam gereja, dan masa berlakunya adalah 3 tahun. Kalau dalam sebuah negara, Majelis Penatua dan Diaken ini sama dengan menteri yang tugasnya sama yaitu membantu kinerja pimpinan atau pendeta.

Yang berhak menjadi Majelis Penatua dan Diaken gereja adalah seluruh warga dewasa yang merupakan warga gereja setempat dan tidak dalam pengembalaan khusus, tentunya dengan cara pemilihan seperti dalam pemilu. Dalam pemilihan Majelis Penatua dan Diaken ini tidak ada calon yang mencalonkan secara langsung, tetapi calon dipilih langsung oleh warga dengan suara terbanyak.
Pemilihan dan cara pelaksanaan tergantung dengan gereja-gereja yang melakukannya, karena tiap gereja memiliki caranya sendiri dalam menentukan calon-calon Majelis Penatua dan Diaken, dan jumlah Majelis Penatua dan Diaken di setiap gereja di GKJW juga berbeda-beda tergantung kebutuhan dan besar kecilnya jemaat.
Pemilihan ini berlangsung selama kurang lebih 1-2 bulan sampai terpilihnya dan diperolehnya jumlah yang diperlukan menjadi Penatua dan Diaken.
Panitia yang terbentuk dan didoakan dalam ibadah Minggu di GKJW Bongsorejo yaitu Penasehat Pdt. Tri Kridhaningsih, S. Si., Ketua Panitia Hari Tjahjono, Sekretaris Yosefine Deodotis, Bendahara Prasetyowati, Pembantu Umum Anubowo Suprapto, Budi Firmanto, Johan Dwianto, Puji Hari Nugroho, Widarini, Pratomo Budi Sulistyo, Idayanti, Ririn Aprilawati, Rose Swastika Herena, dan Andhika Chrisna S.













