Di penghujung akhir masa KKN, KPM 13 UNIPDU yang berlokasi di Talun Kidul menggelar acara pelatihan tentang DESTANA atau desa tangguh bencana.
Acara ini dibuka oleh moderator Anes An Aisyah pukul 19:30 pada hari Minggu, 4 Agustus 2024 dengan menghadirkan 2 narasumber di antaranya Bapak Sufendi Hariyanto selaku pengurus BAPENA PPNI serta Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNIPDU dan Bapak Lukmanul Hakim selaku pengurus BAPENA PPNI Jombang dan TOT DESTANA.
Acara diawali dengan sambutan Bapak Fikri selaku tokoh DESTANA kemudian sambutan dari Kepala Desa Bambang Sugianto.
Tidak hanya teori yang dipaparkan tapi juga langsung praktek pada penanggulangan dan evakuasi bencana banjir oleh narasumber.
Menurut Mada, Ketua KPM 13 KKN UNIPDU Talun Kidul ini mengatakan bahwa program simulasi bencana ini gagasan awalnya adalah ketika dari kampus memberikan tema untuk KPM 13 yaitu DESTANA atau desa tangguh bencana, dari teman-teman kemudian berkolaborasi dengan tim DESTANA Talun Kidul. Setelah rapat akhirnya memutuskan untuk melakukan simulasi evakuasi bencana banjir. Mahasiswa asal bumi Ronggolawe Tuban ini juga menambahkan latar belakang melakukan simulasi ini dikarenakan dari Desa Talun Kidul sendiri ini hampir tiap tahun jadi langganan banjir, karena salah satu dusun yaitu Dusun Blongsono ini diapit oleh 2 sungai besar, yaitu Sungai Tombor dan Sungai Kaligunting.
Menurut Bapak Bambang Sugianto selaku Kades Talun Kidul menuturkan bahwa DESTANA adalah desa tangguh bencana, di Jombang hanya ada 2 desa yaitu Desa Talun Kidul Sumobito dan Desa Jombok Kecamatan Kesamben.
Latar belakang ditunjuknya Desa Talun Kidul karena Kaligunting ketika banjir sering meluap, maka masyarakat desa ini ditunjuk dan diberi arahan apabila ada banjir sewaktu-waktu masyarakat atau para tokoh masyarakat sudah bisa menangani dan mengevakuasi sendiri. Beliau juga menambahkan awal dibentuk DESTANA dari BPBD Jombang dan BPBD Jatim itu awal bulan Mei 2024 yang diawali dengan penghijauan dan penanaman pohon.
Setali tiga uang dengan Kades, salah seorang tokoh DESTANA yang bernama Bapak Saiful Arif juga mengungkapkan bahwa DESTANA adalah kegiatan yang terorganisir.
“DESTANA desa tahan bencana, jadi sebagai anggota yang ditunjuk merupakan masyarakat pilihan untuk tanggap bencana ketika bencana itu terjadi. Dari pihak-pihak terkait diberikan bekal ketrampilan untuk penanggulangan bencana baik karena banjir atau bencana alam lain bahkan juga bencana non alam,” jelasnya.
Beliau juga bercerita awal mula terbentuk DESTANA itu karena Desa Talun Kidul terkenal dengan banjirnya, bahkan sebelum ada pembangunan tanggul bisa dikatakan tiap setahun sekali mesti mengalami banjir, kemudian dari Pemerintah Kabupaten Jombang menunjuk Desa Talun Kidul menjadi DESTANA dan dari pemerintah pusat kemudian mengakomodir kepada siapa saja yang punya jiwa sosial untuk menjadi relawan DESTANA, termasuk dari Kades, Babinsa dan hingga kini sudah mencapai 28 anggota. Para relawan dibekali pelatihan dari pihak BPBD Jatim.















