Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan luar biasa. Budaya yang dimiliki ini berasal dari aneka ragamnya suku yang ada di dalamnya baik suku asli maupun suku dari bangsa pendatang yang lama dan menetap di bangsa ini.
Salah satunya adalah Potehi. Seni budaya yang merupakan berjenis Wayang ini berasal dari Tiongkok yang dibawa oleh saudagar dan merantau di Indonesia.

Kini Wayang Potehi telah diwarisi oleh seniman yang berasal dari Mancilan Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang, dia bernama Supangat. Dia pengrajin tokoh – tokoh Wayang Potehi juga semacam setting yang berbentuk tiruan Halaman Rumah Kekaisaran sebagai tempat Wayang Potehi berteater.

Di Jombang, Potehi dipentaskan di Klenteng Hong San Kiong Gudo dan disitulah satu – satunya tempat Potehi dibudayakan dan dipopulerkan di Indonesia.
Potehi Gudo dikenal hingga ke mancanegara dan banyak kajian budaya yang dilakukan oleh akademisi dan ilmuwan budaya disana dan juga sering mendapat undangan untuk pentas di luar negeri seperti barusan yang telah terjadi.
Wayang Potehi Jombang selesaikan pentas di Eropa dan menghadiri undangan dari UNESCO dalam program Sidang Umum Warisan Budaya Tak Benda yang dihadiri oleh 60 (enam puluh) negara di dunia.

Toni Harsono, Ketua Potehi Gudo – Jombang mengundang Budayawan, Tokoh Agama, dan Wartawan pada 9 Juli 2024 di Warung Potehi dalam Tasyakuran dan Konferensi Pers hasil dari pentas di Eropa dan menghadiri undangan UNESCO dalam program “Intangible Cultural Heritage” yang dalam bahasa kita disebut Sidang Umum Warisan Budaya Tak Benda.
Perjalanan mereka berlangsung selama 12 hari, yaitu diawali dari 31 Mei hingga 12 Juni 2024.
Dari cerita Toni Harsono saat konferensi pers, pihak UNESCO sebagai pengundang pun menawarkan kesediaan Potehi untuk hadir atau tidak dalam program yang dihadiri oleh 60 negara tersebut. Dikarenakan panitia tidak menyediakan dana untuk undangan dan dia pun menjawab undangan tersebut untuk sanggup dan bersedia datang.
Pendanaan yang dilakukan dalam misinya ini berasal dari dana swadaya dan tidak ada support dari pihak manapun dari luar. Itu harus dilakukan oleh Potehi Gudo Jombang demi membawa Jombang juga Indonesia dengan Potehi di kancah Internasional.
Toni Harsono melakukannya dengan melakukan street art show atau yang kita kenal dengan ngamen sebelum dia melakukan agenda pertamanya yaitu mengunjungi dan pentas di Universitas Dengu Napoli Italia. Mereka makan dengan cara memasak sendiri selama perjalanan internasional tersebut untuk mencukupi biaya yang harus dimilikinya.
Hingga pada 11 Juni mereka harus bergeser ke Paris untuk mengikuti “Intangible Cultural Heritage” (Sidang Umum Warisan Umum Tak Benda) yang diselenggarakan UNESCO tersebut. Pada saat itu, mereka diminta secara khusus oleh panitia untuk mementaskan pertunjukan Potehi.
Dalam pertunjukan tersebut, Toni Harsono dan team menampilkan cerita perjuangan rakyat Indonesia melawan Kolonialisme Belanda dalam cerita Geger Pecinan. Tidak hanya itu mereka juga menampilkan lagu – lagu daerah seperti: Rek Ayo Rek, dan Mars Ya Lal Waton.
















